Iran Sebut Tekanan Militer AS Mengincar Posisi Tawar Teheran
2026-07-17 08:31 WIB · aindari

Seorang anggota parlemen Iran menilai serangan Amerika Serikat terkait upaya menekan Teheran sebelum perundingan lanjutan.
Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran menuding Washington memakai tekanan militer untuk memperlemah posisi Iran menjelang pembicaraan berikutnya. Penilaian itu disampaikan Ahmad Bakhshayesh Ardestani, anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, dalam wawancara dengan RIA Novosti yang dipublikasikan Jumat.
Ardestani mengatakan sejumlah negara masih berusaha membuka ruang mediasi. Pakistan, Qatar, dan Turki disebut tetap menjalankan upaya untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, menurut dia, Washington masih menilai tekanan terhadap Teheran dapat memberi keuntungan sebelum perundingan dilanjutkan.
Isu Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam ketegangan tersebut. Ardestani menilai tujuan penting Amerika Serikat adalah mengurangi kekuatan posisi Iran di jalur perairan strategis itu. Ia mengaitkan kembali munculnya serangan dengan nota kesepahaman yang sebelumnya diteken secara tidak langsung oleh Teheran dan Washington, karena dokumen itu dinilai belum menyelesaikan seluruh persoalan dan masih menyisakan ketentuan yang dapat ditafsirkan berbeda.
Salah satu bagian yang disorot Ardestani adalah ketentuan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Dalam dokumen itu, pengaturan disebut dilakukan melalui mekanisme Iran dengan kerja sama Oman. Ardestani menilai posisi Oman dapat dipengaruhi negara-negara Teluk Arab dan juga berada dalam tekanan Amerika Serikat, sehingga ketentuan tersebut berpotensi menjadi celah dalam pembahasan lanjutan.
Menurut Ardestani, Washington berupaya memakai jalur yang ia sebut sebagai koridor Oman untuk pelayaran kapal-kapal melalui Selat Hormuz. Ia menilai langkah itu dapat mengurangi peran Iran dalam mekanisme pengelolaan selat, baik dalam pembicaraan mengenai isu nuklir maupun status Selat Hormuz. Kondisi tersebut, menurut dia, ikut mendorong berlanjutnya konflik yang saling melemahkan antara kedua pihak.
Teheran dan Washington sebelumnya menandatangani nota kesepahaman secara tidak langsung pada malam menuju 18 Juni. Dokumen tersebut mengatur penghentian konflik militer. Namun, sejak 8 Juli, militer Amerika Serikat kembali melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan serangan itu merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Tag: Iran, Amerika Serikat, Selat Hormuz, Timur Tengah, negosiasi