Hari Ketiga Pencarian, Abu Vulkanik dan Cuaca Buruk Hambat SAR di Selat Sunda
2026-09-11 12:31 WIB · aindari · 👁 840 dibaca

Tim SAR gabungan memperluas area pencarian hingga 2.483 mil laut persegi, namun delapan orang termasuk lima jurnalis belum ditemukan.
Delapan orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda — lima di antaranya jurnalis — belum berhasil ditemukan hingga Kamis malam, 10 September 2026. Rombongan tersebut kehilangan kontak sejak Senin, 7 September 2026, saat menumpang speedboat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas gunung berapi itu.
Memasuki hari ketiga operasi, Tim SAR gabungan menghadapi sejumlah hambatan serius. Abu vulkanik yang masih tersebar di sejumlah titik perairan Selat Sunda memaksa kapal-kapal pencari menyesuaikan jalur pelayaran mengikuti arah angin. Kondisi ini semakin rumit karena status Gunung Anak Krakatau berada di Level III atau Siaga, menjadikan radius tiga kilometer dari kawah sebagai zona berbahaya. Tim SAR sebelumnya telah menyisir sejumlah pulau di sekitar gunung tersebut, termasuk Pulau Rakata, Krakatoa, dan Pulau Panjang.
Selain ancaman vulkanik, kondisi laut turut menyulitkan operasi. Angin kencang disertai gelombang setinggi satu hingga dua meter membuat pergerakan kapal tidak leluasa. Tim juga harus memperhitungkan kemungkinan kapal atau objek terbawa arus dari titik terakhir rombongan diketahui, sehingga area penyisiran terus diperluas.
Pada hari ketiga ini, luas area pencarian mencapai sekitar 2.483 mil laut persegi yang dibagi ke dalam enam sektor. Untuk memperkuat jangkauan, satu unit helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604 diterbangkan dari Lanud Atang Sendjaja sekitar pukul 12.36 WIB guna membantu penyisiran dari udara. Meski demikian, Basarnas menyatakan operasi udara tersebut belum membuahkan hasil.
Satu temuan yang menarik perhatian muncul pada Kamis sore. Kapal Angkatan Laut KAL Anyer 1-3-64 menemukan sebuah jaket pelampung sekitar pukul 15.32 WIB, di lokasi yang berjarak sekitar 7,5 mil laut dari sisi barat Suar Tanjung Koneng Anyer, atau sekitar 20 mil laut di sisi timur laut Gunung Anak Krakatau. Di sekitar lokasi yang sama juga ditemukan botol berwarna putih yang menyerupai pelampung. Namun hingga laporan disampaikan, tim masih melakukan verifikasi untuk memastikan apakah benda-benda itu berkaitan dengan rombongan yang hilang.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii memastikan operasi pencarian akan dioptimalkan selama tujuh hari. Kombinasi antara aktivitas vulkanik yang belum mereda, cuaca yang tidak menentu, dan luasnya wilayah perairan menjadi tantangan utama yang harus dikelola tim agar pencarian dapat berjalan efektif sekaligus menjaga keselamatan personel di lapangan.
Tag: Gunung Anak Krakatau, SAR, jurnalis hilang, Selat Sunda, Basarnas