Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Pezeshkian Tolak Eskalasi Perang, Tapi Tegaskan Iran Harus Perkuat Ketahanan

2026-09-11 21:03 WIB · aindari · 👁 726 dibaca

Di tengah konflik yang masih berlangsung dengan AS, Presiden Iran menyatakan tidak menginginkan perang berlanjut sekaligus menekankan pentingnya memperkuat posisi negara sebelum bernegosiasi.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikapnya menolak kelanjutan perang dengan Amerika Serikat, namun dalam napas yang sama ia menyerukan agar Iran memperkuat ketahanan nasional untuk menghadapi perkembangan ke depan. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah pertemuan bersama pimpinan universitas di Iran dan dikutip oleh kantor berita Mehr News Agency pada Jumat.

Pezeshkian menekankan bahwa penguatan ketahanan negara bukan berarti menutup pintu diplomasi, melainkan memastikan Iran tidak terpaksa berunding dengan pihak yang disebutnya sebagai "musuh" dari posisi yang lemah. Ia juga meminta kalangan akademik dan universitas turut mendukung pemerintah dalam upaya tersebut.

Dalam forum yang sama, Pezeshkian menyinggung pentingnya kebijakan ekonomi yang mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat. Ia memperingatkan bahwa langkah-langkah yang tidak diperhitungkan secara matang berpotensi memperburuk keadaan alih-alih menjadi solusi. Presiden Iran itu juga mendorong keterlibatan generasi muda, khususnya Generasi Z, agar berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa melalui jalur konstruktif, bukan lewat aksi protes.

Latar belakang pernyataan Pezeshkian ini tidak lepas dari rangkaian konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak akhir Februari. AS dan Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu Teheran meluncurkan rudal ke Israel serta menyerang sejumlah target dan pangkalan AS di kawasan. Iran turut menutup Selat Hormuz bagi pelayaran, langkah yang berdampak luas terhadap aliran energi dan perdagangan global.

Pada pertengahan Juni, kedua pihak sempat mencapai nota kesepahaman untuk menghentikan operasi militer. Kesepakatan itu mencakup jaminan keselamatan bagi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz serta komitmen memulai negosiasi menuju perjanjian final dalam 60 hari. Namun kesepahaman tersebut tidak bertahan lama — bentrokan kembali pecah pada Juli, disusul serangan AS terhadap sejumlah target di Iran dan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di tengah situasi yang masih bergolak itu, Pezeshkian juga menegaskan bahwa dirinya tidak berafiliasi dengan kelompok politik mana pun dan terbuka untuk bekerja sama dengan semua pihak yang dapat membantu Iran keluar dari krisis yang sedang dihadapi.

Tag: Iran, Amerika Serikat, Masoud Pezeshkian, konflik militer, Selat Hormuz