Houthi Genggam Selat Bab al-Mandab Setelah Kuasai Pulau Perim dan Kota Dhubab
2026-09-11 22:03 WIB · aindari · 👁 329 dibaca

Perebutan Pulau Perim dan kota Dhubab oleh Houthi dinilai melengkapi kendali kelompok itu atas salah satu jalur maritim tersibuk di dunia.
Kelompok Houthi dilaporkan telah merebut Pulau Perim — yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai Mayyun — beserta kota pesisir Dhubab di Provinsi Taiz, Yaman barat. Kabar ini disampaikan sumber militer pemerintah Yaman kepada kantor berita Anadolu pada Jumat, dengan syarat identitasnya tidak diungkap. Hingga pukul 17.30 WIB, belum ada pernyataan resmi dari pihak Houthi maupun pemerintah Yaman yang mengonfirmasi atau membantah laporan tersebut.
Pulau Perim memiliki posisi yang sangat strategis: letaknya tepat di tengah Selat Bab al-Mandab, membelah jalur pelayaran itu menjadi dua saluran. Menurut sumber militer yang sama, penguasaan pulau ini berarti Houthi kini secara praktis telah menyelesaikan cengkeramannya atas seluruh Selat Bab al-Mandab. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu koridor terpenting bagi perdagangan global serta pengiriman energi.
Bersamaan dengan itu, Houthi juga disebut merebut Dhubab, sebuah kota di tepi Selat Bab al-Mandab yang masuk wilayah Provinsi Taiz. Akibatnya, pasukan pemerintah Yaman dilaporkan mundur ke Provinsi Lahij di bagian barat daya negara itu. Penguasaan Dhubab semakin memperkuat posisi Houthi di sepanjang garis pantai yang menghadap jalur perairan vital tersebut.
Perkembangan ini merupakan bagian dari serangkaian kemajuan militer Houthi di sisi barat Yaman. Sebelumnya, kelompok itu telah menguasai seluruh wilayah barat Provinsi Al-Hudaydah setelah masuk ke Hays dan Al-Khawkhah, serta merebut sejumlah kota pesisir Laut Merah termasuk Mokha. Ekspansi ini menggambarkan pergeseran signifikan dalam peta kendali wilayah di Yaman barat.
Di sisi lain, pemerintah Yaman dilaporkan mencatat kemajuan di front utara. Pasukan pemerintah bergerak mendekati Al-Hazm, ibu kota Provinsi Al-Jawf. Pertempuran juga masih berlangsung di beberapa provinsi lain, termasuk Marib, Al-Bayda, dan Al-Dhale, menandakan konflik yang masih jauh dari mereda.
Kekhawatiran regional dan internasional diperkirakan meningkat seiring laporan ini, terutama menyangkut keamanan maritim dan kelancaran lalu lintas kapal komersial serta tanker energi yang melewati Bab al-Mandab. Jalur ini terlalu penting untuk diabaikan oleh komunitas global, mengingat volume perdagangan yang bergantung padanya setiap harinya.
Konflik Yaman sendiri telah berlangsung lebih dari satu dekade, bermula ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi kemudian mengintervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional, namun perang saudara ini belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Tag: Houthi, Bab al-Mandab, Yaman, keamanan maritim, Laut Merah