Akademisi Unram: El Niño Ancam Perpanjang Kemarau NTB, Mitigasi Harus Diperkuat
2026-09-12 17:05 WIB · aindari · 👁 706 dibaca

Dosen Universitas Mataram memperingatkan kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dan intens akibat El Niño, dan mendorong pemerintah serta masyarakat NTB segera memperkuat langkah mitigasi.
Fenomena El Niño yang berbarengan dengan musim kemarau dinilai berpotensi memperparah kekeringan di Nusa Tenggara Barat. Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Mataram (Unram), Hilman Ahyadi, menyebut kondisi tahun ini tidak sekadar soal intensitas kemarau yang tinggi, melainkan juga periodenya yang diperkirakan berlangsung lebih lama dari biasanya — mengacu pada informasi yang dirilis BMKG.
Menurut Hilman, dampak paling langsung dari kemarau panjang ini adalah berkurangnya ketersediaan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun lahan pertanian. Di sektor pertanian, berkurangnya pasokan air irigasi dapat menekan produktivitas tanaman dan memperbesar risiko gagal panen, terutama jika petani tidak menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca yang berubah.
Ia mendorong petani beralih ke tanaman yang lebih tahan kekeringan selama musim kemarau berlangsung. Padi dan palawija disarankan tidak ditanam pada periode ini, dan sebagai alternatif ia menyebut tembakau sebagai contoh tanaman yang lebih sesuai. Selain penyesuaian jenis tanaman, petani juga dianjurkan menerapkan konservasi air di lahan mereka agar ketersediaan air dapat dipertahankan sepanjang musim kering.
Di luar pertanian, Hilman juga menyoroti risiko kebakaran yang meningkat saat kemarau. Pemerintah daerah didorong memperketat sosialisasi sekaligus pengawasan terhadap aktivitas pembakaran, baik sampah rumah tangga maupun pembukaan lahan, guna menekan potensi kebakaran yang dapat memperburuk kondisi lingkungan.
Pada level rumah tangga, masyarakat diimbau berhemat dalam penggunaan air dan memperhatikan kebersihan tempat penampungan air agar tidak menjadi sarang nyamuk. Hilman juga mengingatkan pentingnya menjaga sanitasi lingkungan dengan tidak membuang limbah domestik ke selokan atau lahan terbuka. Saat kekeringan, limbah yang menumpuk berpotensi menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit seperti nyamuk, tikus, lalat, dan kecoak.
Risiko kesehatan lain yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi, khususnya bagi kelompok yang banyak beraktivitas di luar ruangan seperti petani, peternak, dan nelayan. Suhu tinggi yang menyertai kemarau panjang membuat kelompok ini rentan mengalami gangguan kesehatan akibat kekurangan cairan.
Hilman menegaskan bahwa mitigasi dan adaptasi harus dijalankan secara bersamaan dan melibatkan semua pihak — pemerintah, petani, maupun masyarakat umum — agar dampak kekeringan terhadap lingkungan, sektor pertanian, dan kesehatan warga dapat diminimalkan.
Tag: El Niño, kemarau NTB, mitigasi kekeringan, pertanian NTB, Universitas Mataram