Harga Minyak Dunia Mendekati US$100, Pertamax Berpotensi Menembus Rp20.000 per Liter
2026-09-13 06:03 WIB · aindari · 👁 844 dibaca

Kenaikan harga minyak mentah dunia membuka risiko lonjakan harga Pertamax, sementara pemerintah memastikan BBM bersubsidi tidak ikut naik.
Harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik hingga mendekati level US$100 per barel memunculkan kekhawatiran baru bagi konsumen kendaraan bermotor di Indonesia. Salah satu dampak yang paling disorot adalah potensi kenaikan harga Pertamax, bahan bakar non-subsidi andalan Pertamina, yang bisa menembus angka Rp20.000 per liter apabila tren kenaikan harga minyak global berlanjut.
Pertamax merupakan BBM yang harganya mengikuti mekanisme pasar dan tidak mendapat subsidi dari pemerintah, sehingga pergerakan harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor penentu utama penyesuaian harganya. Ketika harga minyak mentah internasional melonjak, biaya produksi dan impor bahan bakar pun ikut terdongkrak, dan tekanan itu berpotensi diteruskan ke harga jual di SPBU.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia tidak akan berdampak langsung pada harga BBM bersubsidi. Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak mengalami kenaikan harga dalam waktu dekat. Pemerintah memilih menanggung selisih harga tersebut melalui mekanisme subsidi agar daya beli masyarakat kalangan bawah tetap terjaga.
Namun bagi pengguna Pertamax — yang umumnya adalah pemilik kendaraan dengan mesin berkapasitas lebih besar atau yang secara sukarela memilih bahan bakar beroktan lebih tinggi — potensi lonjakan harga ini patut diantisipasi. Angka Rp20.000 per liter merupakan skenario yang bisa terjadi jika harga minyak dunia benar-benar menembus dan bertahan di atas US$100 per barel dalam jangka waktu yang cukup lama.
Dari sisi pasar keuangan, kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang ikut memanas turut menjadi perhatian para investor. Kondisi ini dinilai mempengaruhi sentimen terhadap instrumen investasi seperti reksa dana pasar uang maupun produk obligasi ritel seperti SR025, meski dampaknya terhadap keputusan investasi bersifat tidak langsung dan bergantung pada banyak faktor.
Situasi ini menempatkan pemerintah dan Pertamina pada posisi yang tidak mudah: menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi di tengah tekanan fiskal, sekaligus memberi ruang bagi penyesuaian harga Pertamax agar tidak membebani keuangan perusahaan secara berkelanjutan. Konsumen pengguna Pertamax disarankan memantau perkembangan harga minyak dunia sebagai sinyal awal kemungkinan perubahan harga di SPBU.
Tag: Pertamax, harga BBM, minyak dunia, Pertamina, BBM non-subsidi