Indonesia Ajak Negara BRICS Tinggalkan Dolar, Perkuat Transaksi dengan Mata Uang Lokal
2026-09-13 06:07 WIB · aindari · 👁 448 dibaca

Indonesia mendorong negara-negara BRICS untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara, di tengah wacana blok tersebut membangun sistem keuangan alternatif.
Indonesia mengambil posisi aktif dalam mendorong negara-negara anggota BRICS beralih dari ketergantungan pada dolar Amerika Serikat dengan memprioritaskan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral maupun multilateral. Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan Bank Indonesia yang selama ini mempromosikan skema Local Currency Transaction (LCT) dan sistem pembayaran lintas negara.
Dorongan Indonesia ini muncul di tengah dinamika internal BRICS yang semakin intens. Blok yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan — beserta sejumlah negara mitra baru — tengah menjajaki kemungkinan menciptakan mata uang bersama sebagai alternatif terhadap dominasi dolar dalam sistem keuangan global. Wacana ini menempatkan BRICS selangkah lebih dekat pada upaya konkret mengurangi ketergantungan terhadap mata uang Amerika Serikat.
Dalam forum BRICS, dua anggota dengan posisi geopolitik yang kompleks — Iran dan Rusia — turut menyuarakan kritik keras terhadap sanksi ekonomi yang mereka nilai menghambat perdagangan internasional. Keduanya mendorong penguatan jalur perdagangan di dalam kerangka BRICS sebagai respons atas tekanan dari negara-negara Barat. Sikap ini memperkuat narasi bahwa BRICS kini bukan sekadar forum ekonomi, melainkan juga platform untuk menantang tatanan keuangan global yang ada.
Sementara itu, Iran dikabarkan tengah berupaya bergabung dalam keanggotaan New Development Bank (NDB), bank pembangunan milik BRICS yang didirikan sebagai penyeimbang lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Langkah Iran ini mencerminkan minat negara-negara yang terdampak sanksi untuk mencari alternatif akses pembiayaan di luar sistem yang dikuasai Barat.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam agenda mata uang lokal BRICS membawa potensi sekaligus risiko. Di satu sisi, perluasan skema LCT dapat mengurangi biaya konversi dan eksposur terhadap fluktuasi dolar dalam perdagangan dengan mitra BRICS. Di sisi lain, posisi Indonesia sebagai negara mitra — bukan anggota penuh — membuat pengaruhnya dalam membentuk arah kebijakan blok tersebut masih terbatas. Sentimen pasar terhadap rupiah pun berpotensi terpengaruh oleh perkembangan wacana de-dolarisasi ini, mengingat perubahan lanskap keuangan global selalu membawa ketidakpastian bagi mata uang negara berkembang.
Ke depan, konsistensi Indonesia dalam mendorong transaksi mata uang lokal akan menjadi sinyal penting bagi mitra dagang di kawasan, sekaligus penentu seberapa jauh negara ini mampu memanfaatkan momentum pergeseran sistem keuangan global yang sedang berlangsung.
Tag: BRICS, mata uang lokal, de-dolarisasi, Bank Indonesia, perdagangan internasional