Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

Dari Limbah ke Lapangan Usaha: Unib Latih Warga Bengkulu Tengah Olah Sabut Kelapa

2026-09-15 17:11 WIB · aindari · 👁 557 dibaca

LPPM Universitas Bengkulu melatih masyarakat Kecamatan Pondok Kelapa mengubah sabut kelapa yang selama ini terbuang menjadi geo-textile dan briket bernilai ekonomi.

Sabut kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah di wilayah pesisir Bengkulu Tengah kini mendapat perhatian serius dari Universitas Bengkulu (Unib). Melalui program pengabdian berbasis riset yang dijalankan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), perguruan tinggi itu hadir di Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, untuk mengajarkan warga cara mengolah bahan buangan tersebut menjadi produk yang punya nilai jual.

Ketua Tim Pengabdian Berbasis Riset LPPM Unib, Prof. Mochamad Ridwan, menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata peran perguruan tinggi yang tidak sekadar menghasilkan ilmu di balik tembok kampus, melainkan turun langsung memberi manfaat kepada masyarakat melalui potensi lokal yang ada di sekitar mereka.

Potensi itu memang tidak kecil. Bengkulu Tengah memiliki lahan tanaman kelapa seluas sekitar 1.222 hektare, dengan Kecamatan Pondok Kelapa sendiri menyumbang sekitar 266 hektare di antaranya. Selama ini, buah kelapa sudah dimanfaatkan warga untuk kebutuhan rumah tangga dan diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO). Namun sabutnya — bagian yang melapisi tempurung — nyaris tidak tersentuh dan hanya menumpuk sebagai sampah.

Dalam pelatihan ini, tim LPPM Unib membimbing warga mulai dari tahap paling dasar: memisahkan sabut kelapa menjadi dua komponen utama, yakni serat sabut (cocofiber) dan serbuk sabut (cocopeat). Dari dua bahan itulah kemudian dikembangkan produk akhir berupa geo-textile — material yang digunakan dalam rekayasa tanah dan konstruksi — serta briket sebagai bahan bakar alternatif.

Kegiatan ini bukan yang pertama. Pada 2025, Unib telah lebih dulu menyerahkan peralatan pengolahan sabut kelapa kepada warga Desa Srikuncoro sehingga mereka bisa memproduksi cocopeat dan cocofiber. Pelatihan kali ini merupakan kelanjutan dari program tersebut, kini berfokus pada pengolahan lanjutan kedua bahan tadi menjadi produk jadi. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris APMIKIMMDO Bengkulu Tengah, Cici Handayani, yang organisasinya digandeng Unib sebagai mitra dalam program ini.

Selain membuka peluang usaha bagi masyarakat, Prof. Ridwan juga berharap program ini turut menekan persoalan limbah di kawasan pesisir Bengkulu Tengah. Dengan kata lain, manfaatnya tidak berhenti pada aspek ekonomi semata, tetapi juga menyentuh dimensi lingkungan yang selama ini kerap diabaikan ketika membicarakan potensi kelapa.

Tag: Universitas Bengkulu, sabut kelapa, pengabdian masyarakat, Bengkulu Tengah, limbah pertanian