Beijing Dorong Teheran dan Washington Kembali ke Meja Perundingan di Tengah Eskalasi Kawasan
2026-09-17 06:08 WIB · aindari · 👁 417 dibaca

Menteri Luar Negeri China dan Iran bertemu di Beijing untuk membahas upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan Houthi yang kian meluas.
Pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara China dan Iran berlangsung di Beijing pada Rabu (16/7), ketika Menteri Luar Negeri Wang Yi menerima kunjungan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi. Kedua pihak membahas situasi kawasan Teluk yang terus memanas, termasuk langkah-langkah konkret menuju penyelesaian konflik yang berkepanjangan.
Wang Yi menegaskan bahwa gejolak di Timur Tengah telah memberikan dampak serius terhadap perdamaian dan pembangunan internasional. Ia menyatakan China, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, siap memainkan peran konstruktif dalam menyelesaikan berbagai perselisihan di kawasan tersebut. Beijing secara khusus mendorong Iran dan Amerika Serikat agar bersikap rasional, menahan diri, dan segera kembali mengacu pada Memorandum Saling Pengertian yang disepakati di Islamabad pada Juni 2026.
Latar belakang pertemuan ini tidak lepas dari meluasnya serangan kelompok Houthi dari Yaman. Sehari sebelum pertemuan berlangsung, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara pertama untuk wilayah Makkah. Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki Al-Maliki, menyebut 13 warga sipil terluka akibat serangan Houthi yang menyasar Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Arab Saudi dan AS selama ini menilai Houthi sebagai proksi Iran dan menuduh Teheran memasok senjata kepada kelompok tersebut — tuduhan yang konsisten dibantah Iran.
Dalam pernyataannya, Wang Yi menyerukan agar semua pihak mengambil langkah efektif untuk membuka kembali Selat Hormuz, menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, serta memastikan stabilitas rantai pasokan dan transportasi energi global. China juga menyatakan tidak menginginkan ketegangan meluas ke Yaman dan Laut Merah, serta menyerukan penghentian tindakan yang dapat memperumit keadaan. Wang Yi turut mendorong Iran untuk menjalin dialog dengan negara-negara Teluk berdasarkan prinsip saling menghormati kedaulatan dan keamanan nasional.
Dari sisi Iran, Araghchi menyampaikan perkembangan terkini situasi kawasan sekaligus menegaskan bahwa Teheran tidak menginginkan konflik berlanjut dan lebih memilih jalur diplomatik. Namun, ia menekankan Iran tetap akan mempertahankan hak dan kepentingannya. Araghchi juga mengonfirmasi bahwa Memorandum Saling Pengertian dengan AS yang ditandatangani di Islamabad masih berlaku, dan Iran terbuka untuk berdialog dengan negara-negara tetangga di kawasan demi mendorong pemulihan perdamaian.
Wang Yi menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa arsitektur keamanan yang ada di Timur Tengah perlu direformasi dan diperkuat, karena dinilai belum memadai untuk menangani kompleksitas konflik saat ini. Ia juga menekankan bahwa kebijakan China terhadap Iran tetap konsisten, termasuk komitmen Beijing untuk menentang penggunaan kekuatan dan menjaga norma-norma hubungan internasional di berbagai forum multilateral.
Tag: China, Iran, Timur Tengah, Houthi, diplomasi