Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga ke Level 1% atau Lebih Rendah
2026-09-17 17:02 WIB · aindari · 👁 857 dibaca

Presiden AS Donald Trump kembali menekan bank sentral Amerika Serikat untuk segera memangkas suku bunga hingga ke level 1% atau bahkan di bawahnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menuntut Federal Reserve (The Fed) untuk segera menurunkan suku bunga acuan ke angka 1% atau lebih rendah. Desakan ini bukan pertama kalinya datang dari Trump, yang memang dikenal kerap berselisih pandang dengan kebijakan moneter bank sentral negaranya sendiri.
Tuntutan Trump tersebut muncul di tengah kondisi suku bunga The Fed yang saat ini berada jauh di atas level yang ia inginkan. Selama ini, The Fed di bawah kepemimpinan Jerome Powell cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi, bukan menurunkannya secara agresif seperti yang dikehendaki Trump.
Dari sisi kebijakan moneter, The Fed sebelumnya tercatat pernah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberikan sinyal bahwa masih ada kemungkinan satu kali kenaikan lagi dalam tahun berjalan. Arah kebijakan ini berlawanan langsung dengan posisi Trump yang menginginkan pelonggaran moneter besar-besaran.
Tekanan dari Washington terhadap arah kebijakan The Fed turut memunculkan sentimen negatif di pasar keuangan, termasuk potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ketidakpastian seputar independensi bank sentral AS dapat memengaruhi kepercayaan investor global, yang pada gilirannya berpotensi mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di pasar saham domestik, pergerakan suku bunga The Fed juga menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar dalam menentukan strategi investasi. Kenaikan suku bunga AS secara umum cenderung memperkuat dolar dan menekan aset berisiko, sementara pemangkasan drastis seperti yang dituntut Trump bisa memicu volatilitas tersendiri karena sinyal yang ditimbulkannya terhadap kondisi ekonomi global.
Perdebatan soal siapa yang menanggung beban ketika suku bunga The Fed naik pun kembali relevan. Kenaikan bunga acuan AS lazimnya mengerek biaya pinjaman, menekan daya beli, dan memperketat likuiditas — beban yang pada akhirnya dirasakan oleh konsumen, pelaku usaha, hingga pemerintah negara berkembang yang memiliki utang berdenominasi dolar.
Sejauh ini The Fed belum merespons secara resmi tuntutan terbaru Trump tersebut. Bank sentral AS selama ini menegaskan bahwa keputusan suku bunga diambil berdasarkan data ekonomi, bukan tekanan politik, meski desakan terbuka dari seorang presiden petahana tetap menjadi faktor yang diperhatikan pasar.
Tag: The Fed, suku bunga, Donald Trump, kebijakan moneter, rupiah