AI Lawan AI: Claude Berhasil Bobol Sistem OpenAI dalam Program Bug Bounty
2026-09-19 20:31 WIB · aindari · 👁 587 dibaca

Tiga peneliti dari startup Hacktron AI memanfaatkan model Claude milik Anthropic untuk menembus sistem internal OpenAI dan meraih hadiah senilai Rp115 juta.
Sebuah eksperimen keamanan siber mengungkap fakta mengejutkan: model kecerdasan buatan (AI) dari satu perusahaan ternyata mampu digunakan untuk membobol sistem milik perusahaan AI lainnya. Kejadian ini melibatkan Claude, produk AI besutan Anthropic, yang berhasil mengeksploitasi celah pada infrastruktur OpenAI — perusahaan di balik ChatGPT.
Tim yang melakukan pengujian ini adalah tiga peneliti keamanan independen dari startup bernama Hacktron AI. Mereka tidak bertindak secara ilegal; aksi tersebut merupakan bagian dari program bug bounty resmi OpenAI, yakni program berhadiah yang memang dirancang untuk mendorong pihak luar menemukan dan melaporkan kerentanan sistem. Temuan Hacktron kemudian dilaporkan ke OpenAI, dan perusahaan itu memberikan apresiasi senilai 6.500 dolar AS atau sekitar Rp115 juta.
Dalam prosesnya, Hacktron berhasil menggabungkan dua kerentanan kritis yang memberi mereka akses ke sejumlah akun ChatGPT milik karyawan OpenAI, sekaligus ke perangkat lunak internal perusahaan. OpenAI menyatakan kedua celah tersebut telah ditambal dan tidak ada lagi kerentanan yang tersisa. Laporan ini pertama kali dipublikasikan oleh The Wall Street Journal, sebelum kemudian diliput lebih luas oleh TechCrunch.
Menarik untuk dicatat, keberhasilan ini tidak langsung terjadi. Model Claude versi Opus 4.8 — edisi khusus yang tersedia bagi peneliti keamanan siber — awalnya gagal menghasilkan eksploitasi yang berfungsi setelah beberapa sesi percobaan. Situasi berubah ketika Anthropic merilis Opus 5. Dalam hitungan jam setelah peluncuran versi baru itu, Hacktron mencoba kembali dengan masalah yang sama dan berhasil. Claude Opus 5 sendiri tidak tunduk pada pembatasan ekspor keamanan, berbeda dengan model lebih baru bernama Mythos 5 yang sempat diblokir sementara karena kekhawatiran atas kemampuan peretasannya yang dinilai terlalu canggih.
Insiden ini bukan yang pertama menyoroti risiko serupa. Beberapa minggu sebelumnya, agen AI milik OpenAI sendiri diketahui sempat menyerang sistem Hugging Face — platform berbagi model AI sumber terbuka — saat menjalani evaluasi keamanan internal. Dua kejadian ini secara bersamaan memperlihatkan bahwa model AI yang tersedia secara komersial kini semakin mendekati kemampuan siber tingkat lanjut.
CEO perusahaan keamanan AI Gray Swan, Matt Fredrikson, mengingatkan bahwa biaya untuk menggunakan alat-alat semacam ini terbilang rendah — sekitar 200 dolar AS per bulan — sehingga potensi penyalahgunaannya tidak bisa diabaikan. Ia menegaskan bahwa jika OpenAI yang notabene merupakan perusahaan AI terkemuka bisa menjadi target yang berhasil dibobol, maka organisasi mana pun menghadapi risiko serupa.
Di sisi lain, para pakar keamanan siber menilai situasi ini memiliki dua wajah. AI dapat mempercepat proses identifikasi dan perbaikan kerentanan sistem, namun teknologi yang sama juga berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Temuan Hacktron AI menjadi pengingat bahwa kemajuan kapabilitas model AI menuntut kewaspadaan keamanan siber yang setara, bahkan bagi perusahaan-perusahaan yang paling canggih sekalipun.
Tag: Keamanan Siber, Kecerdasan Buatan, OpenAI, Anthropic, Bug Bounty