Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Doomscrolling dan Risiko Kesehatan di Balik Kebiasaan Menggulung Layar

2026-07-18 17:11 WIB · aindari · 👁 725 dibaca

Doomscrolling membuat seseorang terus mengonsumsi kabar buruk di internet dan berisiko meningkatkan tekanan psikologis hingga keluhan fisik.

Kebiasaan membuka ponsel sejak pagi kini menjadi rutinitas banyak orang, baik untuk melihat media sosial, membaca berita, maupun mengikuti percakapan yang sedang ramai. Namun, aktivitas yang tampak biasa ini dapat berubah menjadi pola yang tidak sehat ketika seseorang terus mencari dan membaca konten negatif. Dalam psikologi, kebiasaan itu dikenal sebagai doomscrolling atau doomsurfing.

Doomscrolling merujuk pada perilaku menggulir media sosial atau portal berita secara terus-menerus untuk mengikuti informasi bernada buruk, seperti bencana, konflik, krisis ekonomi, kriminalitas, hingga isu kesehatan. Sebagian orang merasa kabar buruk dapat membantu mereka lebih siap menghadapi keadaan. Namun, paparan negatif yang berulang justru dapat membuat kecemasan meningkat dan tubuh sulit merasa aman.

Fenomena ini makin mudah terjadi karena media sosial dirancang agar pengguna terus menggulir layar tanpa batas akhir yang jelas. Fitur infinite scroll menghilangkan jeda alami untuk berhenti. Algoritma juga cenderung menampilkan konten yang memancing emosi, termasuk rasa takut, marah, atau penasaran, sehingga pengguna bertahan lebih lama dan kembali menerima konten serupa.

Dari sisi psikologi, dorongan untuk terus memperbarui informasi muncul karena otak mencari kepastian saat menghadapi situasi tidak menentu. Peristiwa besar seperti pandemi, konflik internasional, atau bencana alam dapat mendorong orang mengecek kabar terbaru demi merasa lebih tenang. Penelitian Shabahang dan rekan-rekannya pada 2024 menunjukkan konsumsi berita negatif yang lebih sering berkaitan dengan tingkat stres dan kecemasan yang lebih tinggi, bukan ketenangan.

Di Indonesia, risiko paparan semacam ini menjadi perhatian karena penggunaan media sosial tergolong sangat tinggi. Indonesia berada dalam kelompok empat negara dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak di dunia. Generasi Z menjadi kelompok yang paling aktif, dengan durasi rata-rata satu hingga enam jam per hari. Sekitar lima persen pengguna Gen Z bahkan dapat menghabiskan hingga 10 jam sehari di platform digital. Instagram menjadi platform paling banyak digunakan, disusul TikTok, X, dan Facebook.

Dampak doomscrolling terutama terlihat pada kesehatan mental. Kebiasaan ini dikaitkan dengan kecemasan, stres berkepanjangan, pikiran negatif berulang, ketakutan berlebihan, kesepian, sulit berkonsentrasi, produktivitas menurun, dan kelelahan emosional. Satici dan kolega pada 2022 menemukan tingkat doomscrolling yang tinggi berkaitan dengan stres lebih besar dan pola penggunaan media sosial yang bermasalah. Studi lintas budaya Shabahang dkk. pada 2024 juga mengaitkannya dengan existential anxiety, yakni kecemasan mendalam tentang masa depan, ketidakpastian hidup, dan makna kehidupan. American Psychological Association melaporkan paparan berita negatif berlebihan dapat memicu stres akibat berita dan kelelahan mental.

Kesehatan fisik juga dapat terdampak ketika seseorang berjam-jam menatap layar sambil menyerap kabar buruk. Keluhan yang dapat muncul meliputi gangguan tidur atau insomnia, mata lelah, sakit kepala, tekanan darah meningkat, kelelahan kronis, serta risiko penyakit jantung yang berkaitan dengan stres berkepanjangan. Kurang istirahat juga dapat memicu stres oksidatif. Meski siapa pun bisa mengalaminya, risiko lebih besar terdapat pada orang dengan kecemasan tinggi, fear of missing out, pengguna pasif media sosial, serta individu yang sulit mengelola emosi saat menghadapi tekanan.

Tag: doomscrolling, kesehatan mental, media sosial, stres, Generasi Z