IHSG Anjlok 8 Persen Setelah MSCI Buka Konsultasi Status Pasar Indonesia
2026-10-16 09:30 WIB · aindari · 👁 610 dibaca
Perdagangan saham di BEI dihentikan sementara setelah MSCI mengkaji kemungkinan memindahkan Indonesia dari kategori pasar berkembang ke Standalone Market.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 469,86 poin atau 8,01 persen pada pembukaan perdagangan Jumat hingga berada di level 5.393,92. Penurunan tersebut menembus ambang trading halt, sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara transaksi saham. Indeks LQ45 turut jatuh 49,14 poin atau 8,33 persen menjadi 540,95. Tekanan muncul setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai perubahan status pasar modal Indonesia.
MSCI meminta masukan pelaku pasar terkait rencana memindahkan MSCI Indonesia Indexes dari Emerging Market ke Standalone Market dalam indeks komposit global dan regional yang relevan. Konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan dijadwalkan diumumkan sebelum 30 Juni 2027. Rencana itu disebut tetap berjalan kecuali terdapat bukti kuat mengenai perbaikan material pada tata kelola dan fungsi pasar Indonesia.
Sejak Januari 2026, MSCI telah menunda sebagian perubahan indeks saham Indonesia setelah investor mengangkat persoalan transparansi struktur kepemilikan dan dugaan coordinated trading. Pemerintah dan otoritas pasar sebelumnya menyampaikan sejumlah reformasi, termasuk pengungkapan kepemilikan di atas 1 persen, perincian klasifikasi investor, pelaporan High Shareholding Concentration (HSC), serta rencana peningkatan batas minimum free float menjadi 15 persen. Namun, pelaku pasar menilai pelaksanaan reformasi itu belum konsisten dan belum diikuti penegakan hukum yang signifikan.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memperkirakan tekanan IHSG dapat berlanjut jika level 5.828 ditembus. Dalam skenario tersebut, indeks berpotensi mengisi celah pada area 5.805-5.744 dan 5.704-5.695, dengan 5.700 sebagai dukungan psikologis. Jika kembali melemah di bawah level itu, IHSG berisiko menuju area 5.300, yang merupakan titik rendah sebelumnya. Menurutnya, realisasi reklasifikasi dapat memicu risiko arus keluar dana asing, tekanan jual, dan volatilitas yang lebih tinggi.
Tekanan domestik juga berkaitan dengan ruang fiskal. Beban bunga utang pemerintah dalam APBN 2027 diproyeksikan Rp650,31 triliun atau 18,93 persen dari penerimaan negara. S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia pada BBB dengan outlook stabil, tetapi rasio bunga terhadap penerimaan pemerintah umum yang bertahan di atas 15 persen menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Kenaikan premi risiko 50-100 basis poin berpotensi menambah beban bunga sekitar Rp9-18 triliun per tahun seiring penerbitan surat berharga negara baru.
Sentimen global turut membayangi pasar. Investor meragukan kemampuan perusahaan infrastruktur teknologi menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan belanja modal AI, sementara penggunaan utang dan pembiayaan pemasok dikhawatirkan menciptakan permintaan semu. Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan energi setelah serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, sedangkan potensi konflik dagang China-Uni Eropa menekan prospek pasar China. The Fed diperkirakan menahan suku bunga pada Oktober 2026, meski peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember mulai diperhitungkan setelah PPI AS naik 1,3 persen secara bulanan dan penjualan ritel tumbuh 0,8 persen.
Tag: IHSG, MSCI, BEI, pasar modal, ekonomi Indonesia