Asap Karhutla Berpeluang Terbawa hingga Jakarta, Namun Sumber Polusi Masih Perlu Diverifikasi
2026-10-17 06:05 WIB · aindari · 👁 712 dibaca
Pakar IABI menyebut kondisi atmosfer memungkinkan asap kebakaran hutan dan lahan mencapai Jakarta, tetapi belum ada kepastian bahwa polusi yang terdeteksi berasal dari karhutla.
Asap kebakaran hutan dan lahan dari wilayah luar Jakarta, termasuk Kalimantan, secara meteorologis berpotensi mencapai ibu kota. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono mengatakan kemungkinan tersebut berkaitan dengan dinamika angin selama musim kemarau. Namun, jalur penyebaran dan keberadaan asap di Jakarta harus dibuktikan melalui data angin aktual serta analisis ilmiah.
Musim kemarau di Indonesia umumnya ditandai angin timuran. Meski demikian, arah angin tidak seragam di setiap tempat dan waktu. Pergerakannya dapat berbeda berdasarkan lokasi, ketinggian, waktu pengamatan, serta kondisi atmosfer. Karena itu, arah angin di Kalimantan tidak otomatis sama dengan arah angin di Laut Jawa atau wilayah Jakarta.
Partikel PM2.5 dari kebakaran juga dapat terangkat ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi akibat turbulensi dan konveksi. Pada ketinggian ratusan hingga ribuan meter, arah angin bisa berbeda dari kondisi di dekat permukaan. Perbedaan ini memungkinkan asap menempuh jalur transportasi atmosfer yang tidak mengikuti arah angin permukaan.
Pola tersebut dapat berubah ketika terjadi gangguan atmosfer, wilayah bertekanan rendah, sirkulasi siklonik, atau masa peralihan monsun. Apabila terbentuk aliran udara menuju Laut Jawa dan Jakarta, partikel asap berpotensi menempuh jarak ratusan kilometer. Dalam perjalanan, asap dapat mengalami pengenceran, bercampur dengan polutan lain, berubah secara kimia, dan mengendap. Dampaknya di Jakarta akan dipengaruhi oleh volume emisi, kecepatan angin, hujan, serta kestabilan atmosfer.
Daryono menegaskan bahwa ia belum menyatakan asap karhutla telah tiba di Jakarta. Menurut dia, PM2.5 dari karhutla dan emisi kendaraan dapat dibedakan lewat pemeriksaan ilmiah, tetapi alat pemantau konvensional tidak bisa langsung menentukan sumber polusi ketika berbagai emisi sudah bercampur. Kepastian mengenai asal polutan membutuhkan penelusuran lebih lanjut oleh instansi berwenang, seperti BMKG, BNPB, atau Kementerian Lingkungan Hidup.
Dalam beberapa hari terakhir, warga merasakan kabut tipis di Jakarta, terutama setelah pukul 20.00 WIB, dengan bau dan tekstur yang menyerupai kabut asap. Data IQAir pada Jumat menunjukkan AQI Jakarta sempat mencapai 186 pada pagi hari, dengan PM2.5 sebesar 107 mikrogram per meter kubik. Pada siang hari, AQI tercatat 169 dan PM2.5 mencapai 81 mikrogram per meter kubik, atau 16,2 kali nilai panduan WHO. Menjelang tengah malam, kualitas udara berada pada kategori sedang hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan AQI sekitar 110–140 lebih. Jakarta Selatan dan Jakarta Barat cenderung mencatat polusi lebih tinggi dibandingkan Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.
Tag: karhutla, kualitas udara, PM2.5, Jakarta, meteorologi