Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

KBRI Beijing Dorong Kampus Jadi Penghubung Transfer Teknologi Indonesia-China

2026-10-17 06:08 WIB · aindari · 👁 844 dibaca

Kemitraan pendidikan dan riset dinilai dapat memperkuat transfer teknologi, keterampilan, serta integrasi rantai pasok antara Indonesia dan China.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing mendorong pendidikan dan kerja sama antarperguruan tinggi menjadi jalur transfer teknologi dari China ke Indonesia. Gagasan itu disampaikan Wakil Kepala Perwakilan RI Beijing Parulian Silalahi saat membuka Forum Indonesia Universitas Peking (PKUIF) di Beijing, Jumat.

Parulian mengaitkan kerja sama tersebut dengan agenda pembangunan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Agenda itu mencakup ketahanan pangan dan energi, hilirisasi industri, transformasi digital, pengembangan sumber daya manusia, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Menurut dia, kemitraan pendidikan dapat mendukung inovasi, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan pembangunan berkelanjutan.

PKUIF diselenggarakan melalui kolaborasi Institut Kajian Negara dan Kawasan Universitas Peking, Institut Kajian Budaya Indonesia-Malaysia, serta Institut Survei Ilmu Sosial Universitas Peking. Forum ini diharapkan memperluas jejaring industri dan membangun rantai pasok regional yang lebih tangguh, dengan hubungan ekonomi yang bergerak dari perdagangan komoditas menuju integrasi rantai nilai dan pengembangan teknologi bersama.

Parulian menyebut pertukaran mahasiswa, kemitraan antaruniversitas, program bahasa, dan kegiatan budaya sebagai sarana untuk memperkuat kepercayaan masyarakat kedua negara. Ia mengakui perbedaan regulasi, penyesuaian rantai pasok, dan perbedaan ekspektasi pasar dapat menghambat kemitraan. Karena itu, dialog terbuka melalui forum seperti PKUIF dinilai penting untuk merumuskan solusi yang dapat diterapkan.

Sekretaris Jenderal International Economic Association (IEA) Lili Yan Ing menilai integrasi Indonesia dalam rantai pasok perlu diperkuat. Ia mengatakan investasi China selama ini banyak membawa merek asal negara tersebut, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan pasar lokal. Lili mendorong peningkatan akses pasar China bagi produk pertanian, hasil laut, furnitur, dan produk usaha kecil dan menengah Indonesia, sekaligus peningkatan investasi asing langsung bilateral di bidang infrastruktur, teknologi, infrastruktur digital, dan energi hijau. Menurut dia, kemampuan China mengembangkan panel surya dan pembangkit listrik tenaga air dapat dipadukan dengan pasar ASEAN, terutama jika investasi turut mencakup teknologi dan pengembangan keterampilan.

Perdagangan Indonesia-China disebut meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2015, mencapai 167 miliar dolar AS pada 2025 dan melampaui 135 miliar dolar AS hingga Agustus 2026. China juga termasuk tiga besar sumber investasi asing langsung Indonesia, dengan realisasi 7,5 miliar dolar AS pada tahun lalu. Peneliti Crawford School of Public Policy, Australian National University, Firman Witoelar, mengatakan investasi China di Indonesia banyak berada pada sektor pengolahan, termasuk baterai dan kendaraan listrik. Ia melihat peluang lanjutan pada industri padat karya, kendaraan listrik, dan pengolahan makanan, tetapi pemanfaatannya bergantung pada kebijakan. Forum bertema "Indonesia dalam Masa Transisi: Pembangunan, Masyarakat, dan Tatanan Regional" itu dihadiri sekitar 50 akademisi dari Indonesia, China, Australia, dan negara lain untuk membahas politik, ekonomi, masyarakat, serta hubungan regional.

Tag: pendidikan, transfer teknologi, Indonesia-China, kerja sama universitas, rantai pasok