Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

Siswa SMP di Jakarta Selatan Sulap Sampah Anorganik Menjadi Kerajinan Bernilai Ekonomi

2026-10-20 17:01 WIB · aindari · 👁 632 dibaca

Peserta didik SMPN 294 Jakarta memanfaatkan limbah anorganik dari lingkungan sekolah untuk membuat kerajinan tangan seperti gantungan kunci, sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.

Sebuah inisiatif pengelolaan sampah yang melibatkan siswa dan guru di SMPN 294 Jakarta, Kelurahan Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, berhasil mengubah limbah anorganik menjadi produk kerajinan tangan bernilai ekonomi. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah, tetapi juga menjadi wahana pendidikan lingkungan dan pengembangan kreativitas bagi para pelajar.

Lurah Karet Kuningan, Leo Yudhantara, menyampaikan bahwa langkah yang diambil sekolah tersebut selaras dengan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 mengenai Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Menurutnya, pelibatan peserta didik dalam proses pemilahan dan pengolahan sampah merupakan cara efektif untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia muda.

Proses pengolahan dimulai dengan pemilahan sampah di lingkungan sekolah. Siswa bersama guru memisahkan limbah organik dan anorganik terlebih dahulu. Sampah anorganik yang terkumpul kemudian diolah menjadi berbagai produk kerajinan, salah satunya gantungan kunci dengan aneka warna dan motif. Selain melatih kebiasaan memilah sampah, aktivitas ini juga diharapkan mampu menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan siswa.

Leo mengungkapkan harapannya agar konsep zero waste yang diterapkan SMPN 294 Jakarta — yakni meminimalkan sampah melalui pengurangan, pemanfaatan ulang, dan pengolahan berkelanjutan — dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk melakukan hal serupa.

Kepala SMPN 294 Jakarta, Nina Lestari, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam membangun kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan. Melalui kegiatan ini, para murid mendapat pemahaman bahwa sampah tidak harus langsung dibuang, melainkan bisa dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang berguna.

Selain program daur ulang sampah anorganik, sekolah tersebut juga telah memiliki fasilitas pendukung pengelolaan lingkungan berupa teba modern dan lubang biopori. Nina menyatakan bahwa dengan berbagai fasilitas dan program yang sudah berjalan, pengelolaan sampah di lingkungan SMPN 294 Jakarta telah berjalan cukup baik dan dioptimalkan semaksimal mungkin.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang diintegrasikan ke dalam kegiatan sekolah dapat memberikan dampak ganda: mengurangi timbulan sampah sekaligus membekali generasi muda dengan keterampilan praktis dan kesadaran ekologis yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Tag: pendidikan lingkungan, pengelolaan sampah, kerajinan daur ulang, SMPN 294 Jakarta, zero waste