Lhokseumawe Siapkan 66 Hunian Tetap bagi Penyintas Bencana
2026-10-24 17:04 WIB · aindari · 👁 812 dibaca
Pembangunan rumah bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi di dua kecamatan Lhokseumawe telah berjalan dengan progres sekitar tujuh persen.
Pemerintah membangun 66 unit hunian tetap untuk warga Kota Lhokseumawe, Aceh, yang kehilangan atau mengalami kerusakan rumah akibat bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025. Program ini ditujukan untuk mempercepat pemulihan tempat tinggal penyintas sekaligus menyediakan rumah yang lebih layak dan aman.
Sebanyak 56 unit dibangun di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu. Lokasi tersebut memiliki lahan sekitar empat hektare, tetapi jumlah dan penempatan rumah disesuaikan dengan kebutuhan serta rencana pembangunan. Unit-unit itu akan dihuni warga terdampak dari Gampong Blang Naleng Mameh, Blang Panyang, dan Padang Sakti.
Adapun 10 unit lainnya berada di Gampong Cut Mamplam, Kecamatan Muara Dua. Rumah tersebut diperuntukkan bagi warga terdampak dari Gampong Jambo Timu, Kecamatan Blang Mangat, serta penyintas bencana longsor di Kecamatan Muara Dua. Pemilihan kedua lokasi mempertimbangkan keamanan dan kelayakan lahan. Badan Geologi Pusat telah memberikan rekomendasi mengenai kelayakan lokasi tersebut.
Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Pemukiman Dinas PUPR Kota Lhokseumawe Furqan mengatakan pembangunan di Padang Sakti menggunakan lahan yang tersedia sesuai kebutuhan penempatan unit. Manajer Proyek PT Sarjis Agung Indra Jaya Syahril menyebut pekerjaan telah berlangsung hampir satu bulan, dengan capaian keseluruhan sekitar tujuh persen. Penyelesaian seluruh rumah ditargetkan pada Desember 2026, paling cepat pertengahan bulan dan paling lambat pada akhir Desember.
Pembangunan memakai sistem panel yang dibuat di bengkel kerja di Binjai, Sumatera Utara, lalu dikirim ke lokasi. Rumah dirancang bertipe 36 dengan penyesuaian terhadap lahan berkontur. Posisi bangunan dibuat lebih tinggi dari jalan lingkungan untuk mengurangi risiko genangan. Perbedaan elevasi ditangani melalui sistem bertingkat, penimbunan, dan pembatas antarunit.
Sekitar 85 persen pekerja proyek berasal dari masyarakat setempat. Di Padang Sakti, tiga tim yang berjumlah sekitar 30 orang telah bekerja, dan jumlahnya direncanakan meningkat setelah pemasangan panel berlanjut. Pelaksana juga menyesuaikan kegiatan dengan ketentuan adat yang membatasi pekerjaan pada Jumat. Pekerjaan malam dapat dilakukan untuk menjaga kemajuan proyek tanpa mengurangi jam kerja siang. Selain menyediakan tempat tinggal, proyek ini berpotensi membantu pemulihan warga dan menggerakkan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja.
Tag: Lhokseumawe, hunian tetap, penyintas bencana, Aceh, pembangunan rumah