Banjir Paksa Petani Aceh Tamiang Panen Padi dengan Perahu
2026-10-25 17:01 WIB · aindari · 👁 582 dibaca
Genangan akibat tanggul jebol membuat petani di Bendahara memanen secara manual demi menyelamatkan padi yang mulai rusak.
Petani di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, memanen padi menggunakan sabit di tengah sawah yang masih tergenang. Banjir muncul setelah tanggul sungai di Desa Marlempang jebol dan mengalir ke permukiman serta lahan pertanian, termasuk sawah di Desa Teluk Halban.
Sugiono, petani Desa Teluk Halban sekaligus Koordinator Kecamatan Kelompok Tani Merdeka, mengatakan sawah telah terendam lebih dari sepekan. Pada awal banjir, ketinggian air mencapai lebih dari satu meter sehingga petani belum bisa memulai panen. Tanaman baru dapat dipanen bertahap pada hari kesembilan setelah genangan mulai berkurang.
Lama terendam membuat sebagian batang padi membusuk dan bulirnya berjatuhan. Petani kemudian memakai perahu karet atau perahu berbahan terpal untuk mendatangi tanaman, memotong padi, lalu membawanya ke darat. Mesin combine tidak bisa digunakan dalam kondisi sawah yang dipenuhi air.
Panen juga terhambat minimnya tenaga kerja. Kondisi lahan yang berat, air berbau, dan rasa gatal yang ditimbulkannya membuat pekerja sulit diperoleh. Dengan keterbatasan alat serta tenaga, proses panen diperkirakan berlangsung hingga beberapa pekan. Biaya yang sebelumnya sekitar Rp150 ribu per rantai kini diganti dengan pola bagi hasil, masing-masing 50 persen untuk petani dan pekerja. Skema itu dipilih agar padi yang tersisa tidak membusuk tanpa dipanen.
Areal terdampak dikelola empat kelompok tani, dengan luas setiap kelompok sekitar 25 hektare dan jumlah petani lebih dari 100 orang. Sebelum banjir mencapai sawah, Sugiono telah berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian untuk menyiapkan alat panen. Petani juga sempat bergotong royong memperkuat tanggul secara seadanya, tetapi derasnya arus tidak berhasil ditahan.
Datok Penghulu Desa Teluk Halban Abdullah Boyak menyebut air mulai surut, tetapi sebagian besar sawah masih terendam karena aliran keluar belum optimal. Dari 62 hektare sawah produktif desa yang ditanami dua kali setahun, sekitar 70 persen terdampak ketika padi hampir memasuki masa panen. Banjir juga mengancam lahan percontohan penerapan teknologi pertanian seluas sekitar satu hektare yang ditanami pada Juli dan belum dipanen meski padinya menguning. Irwan Hadi, Pelaksana Tugas Kepala Distanakbun Aceh Tamiang, membenarkan tanggul jebol berdampak pada ratusan hektare sawah di wilayah pesisir, tetapi data luas keseluruhan masih dihimpun.
Tag: banjir Aceh Tamiang, panen padi, petani, tanggul jebol, pertanian