Panas Bumi Kamojang Percepat Produksi Pupuk Organik bagi Petani
2026-10-21 06:03 WIB · aindari · 👁 353 dibaca
Teknologi Dry Cube memangkas waktu pengeringan pupuk organik dari dua pekan menjadi setengah hari dalam program pemberdayaan warga sekitar PGE Kamojang.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang mengembangkan pemanfaatan langsung panas bumi untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat. Salah satu penerapannya ialah Geofert, program yang mengolah limbah rumah tangga dan hasil pertanian menjadi pupuk organik bagi petani lokal di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Dalam proses tersebut, PGE menggunakan Dry Cube, perangkat pengering yang memanfaatkan panas dari sumber geotermal. Teknologi ini mengubah proses pengeringan yang biasanya mengandalkan sinar matahari selama sekitar 14 hari menjadi hanya 12 jam. Pengurangan waktu itu memungkinkan pupuk lebih cepat digunakan dan membantu menjaga kesinambungan pengolahan limbah menjadi produk pertanian.
Geofert merupakan bagian dari program Kanyaah, yang diarahkan untuk mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi bagi kegiatan ekonomi warga sekitar. Petani muda binaan PGE, Hendro, menyampaikan bahwa pupuk yang telah melalui proses pengeringan dapat disimpan sampai satu tahun. Produk tersebut kemudian digunakan dalam ekosistem Geofarm, terutama untuk pembibitan dan budi daya tanaman.
Rangkaian pemanfaatan itu berlanjut ke ekosistem Geofood. Hasil tanaman dari kegiatan Geofarm dapat diolah menjadi produk pangan. Dengan demikian, program tersebut mencakup pengolahan bahan organik, penyediaan sarana produksi pertanian, hingga pemanfaatan hasil panen oleh masyarakat.
PGE juga memakai panas bumi untuk mendukung budi daya ikan melalui program Geofishery. Air kolam dihangatkan menggunakan energi geotermal di kawasan Kamojang yang berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Menurut PGE, ikan pada kolam yang mendapat pemanasan tersebut memiliki bobot lebih besar dibandingkan ikan pada kolam tanpa penghangat, meski bobot benih awalnya sama.
Perusahaan sebelumnya melaporkan perbandingan bobot ikan 200 gram dan 330 gram per ekor dalam publikasi program Kanyaah pada April 2026. Perbedaan itu disebut sekitar 65 persen, dengan masa panen yang lebih cepat hingga 25 persen. Dalam penjelasan lain, PGE menyebut selisih bobot ikan dapat mencapai 85-90 persen setelah beberapa bulan pemeliharaan.
Selain pupuk dan perikanan, panas bumi di Kamojang digunakan untuk mengeringkan ubi, singkong, kentang, kopi, serta pakan ikan. Panas dialirkan melalui pipa yang berada di dalam ruang pengering, menyerupai sistem oven, sehingga bahan tidak bersentuhan langsung dengan fluida panas bumi. Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan pengembangan ini ditujukan untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga. PGE Area Kamojang juga tercatat meraih PROPER Emas 15 kali berturut-turut hingga 2026.
Tag: panas bumi, pupuk organik, pertanian, PGE Kamojang, pemberdayaan masyarakat