Produksi dan Cadangan Beras Naik, Pemerataan Harga Masih Menjadi Tantangan
2026-10-20 17:07 WIB · aindari · 👁 793 dibaca
Peningkatan produksi nasional dan stok Bulog dinilai menjadi capaian penting dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, tetapi distribusi, biaya produksi, dan kesejahteraan petani masih perlu diperbaiki.
Produksi beras nasional dan cadangan beras pemerintah (CBP) meningkat dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai penguatan stok menjadi salah satu capaian utama, meski keterjangkauan pangan dan kesejahteraan petani belum merata.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras pada 2025 mencapai 34,69 juta ton. Angka tersebut naik 13,29 persen dibandingkan produksi 2024 yang sebesar 30,62 juta ton. Di sisi lain, CBP yang dikelola Perum Bulog meningkat dari sekitar dua juta ton menjadi lima juta ton pada April 2026, lalu tercatat 4,5 juta ton per 18 Oktober 2026.
Pengadaan gabah dan beras dalam negeri oleh Bulog hingga 8 Oktober 2026 mencapai sekitar 4,11 juta ton setara beras. Realisasi itu melampaui target empat juta ton dan lebih tinggi daripada pengadaan sepanjang 2025 yang mencapai 3,19 juta ton setara beras. Peningkatan tersebut didukung penyerapan aktif Bulog serta harga pembelian pemerintah untuk gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan itu memberi kepastian pasar, membantu menahan penurunan harga saat panen, dan memperkuat cadangan dari produksi domestik.
Menurut Eliza, kebijakan penyerapan Bulog juga membuka peluang bagi penggilingan kecil untuk kembali menjadi mitra pengolahan gabah. Penurunan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak Oktober 2025 turut dinilai mengurangi beban petani. Namun, capaian produksi juga dipengaruhi cuaca yang relatif mendukung dan keberlanjutan program pertanian dari pemerintahan sebelumnya. Manfaat kebijakan belum dirasakan merata karena lebih banyak menjangkau petani di sentra produksi atau mereka yang memiliki akses ke pasar formal.
Kenaikan produksi belum otomatis membuat beras lebih murah di seluruh wilayah. Harga beras medium nasional masih sekitar Rp14.676 per kilogram pada awal Oktober 2026, sementara harga beras meningkat di 116 kabupaten/kota. Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi hambatan distribusi antarpulau dan rantai pasok. Ketimpangan produktivitas, kehilangan hasil pascapanen, keterbatasan infrastruktur, serta lemahnya posisi tawar petani dan peternak kecil juga tetap menjadi persoalan. Cadangan strategis pun masih lebih banyak bertumpu pada beras, sedangkan hortikultura dan sumber protein rentan terhadap perubahan musim serta gangguan pasokan.
Nilai Tukar Petani (NTP) nasional mencapai 131,11 pada September 2026, yang menunjukkan perbaikan rasio harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayarkan. Perkembangan harga gabah, sawit, karet, dan ayam ras pedaging ikut mendukung kenaikan tersebut. Namun, NTP bukan ukuran langsung pendapatan atau laba, dan kondisi subsektor berbeda-beda; NTP hortikultura, misalnya, turun secara bulanan pada Agustus 2026. Memasuki tahun ketiga pemerintahan, prioritas disarankan mencakup penguatan irigasi, ketersediaan pupuk dan benih tepat waktu, penggunaan alat mesin pertanian secara bersama, peningkatan produktivitas, efisiensi rantai pasok, serta kesiapan menghadapi potensi El Nino. Kenaikan harga pangan akibat penurunan produksi tidak selalu berarti pendapatan petani membaik.
Tag: produksi beras, cadangan pangan, Bulog, kesejahteraan petani, ketahanan pangan