Bio Farma Rancang Fasilitas Vaksin Baru Berkapasitas 750 Juta Dosis
2026-10-30 17:04 WIB · aindari · 👁 400 dibaca
Bio Farma menyiapkan ekspansi fasilitas, penguatan teknologi, dan kemitraan investasi untuk memperbesar pasokan vaksin nasional serta mengurangi ketergantungan impor.
PT Bio Farma (Persero) menyiapkan perluasan produksi vaksin dan penguatan teknologi bioteknologi untuk mendukung kemandirian kesehatan Indonesia. Rencana itu dipaparkan dalam Danantara Technology Innovation and Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont, Jakarta, pada 26–28 Oktober 2026. Forum bertema Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth tersebut dihadiri lebih dari 1.500 peserta dari industri, investor, lembaga penelitian, perusahaan teknologi, dan mitra strategis global.
Bio Farma menyampaikan sejumlah agenda, termasuk pembangunan fasilitas produksi, hilirisasi penelitian, pemanfaatan teknologi digital, serta pembukaan peluang investasi. Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan penguatan industri bioteknologi membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan mitra internasional. Hasil penelitian, menurut dia, harus ditopang kesiapan teknologi, fasilitas manufaktur, pendanaan jangka panjang, dan akses pasar agar bisa diproduksi berkelanjutan.
Perusahaan saat ini memasok 13 dari 14 jenis vaksin dalam Program Imunisasi Nasional. Volume pasokannya melampaui 120 juta dosis per tahun. Sejak 2001, Bio Farma juga telah mendistribusikan 86 miliar dosis vaksin ke 153 negara. Untuk memperbesar kapasitas, perusahaan menyiapkan proyek Bio Shield Nusantara dengan rencana fasilitas baru di luar Bandung.
Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma Dicky Mahardhika Taryono menjelaskan fasilitas tersebut dirancang memiliki kemampuan produksi hingga 750 juta dosis vaksin. Produk dari fasilitas baru itu ditargetkan mulai dihasilkan pada periode 2029–2031. Bio Farma juga berencana memperbarui fasilitas di kawasan Bandung-Pasteur. Pengembangan Gedung 12 dan 43 diproyeksikan menambah sekitar 145 juta dosis, sedangkan Gedung 34 ditargetkan menyumbang tambahan sekitar tujuh juta dosis.
Pada 2029, Bio Farma menargetkan pemenuhan lebih dari 90 persen kebutuhan vaksin Program Imunisasi Nasional. Perusahaan juga menargetkan pengurangan ketergantungan terhadap impor produk strategis sedikitnya 50 persen. Untuk mendukung pembangunan fasilitas, peningkatan manufaktur, dan pengembangan teknologi bioteknologi, Bio Farma membuka peluang kerja sama dengan Danantara serta mitra strategis lain.
Penguatan teknologi mencakup Medtrack, sistem digital untuk memantau distribusi vaksin secara waktu nyata, termasuk suhu selama pengiriman dan potensi gangguan rantai pasok. Bio Farma juga menggunakan Artificial Intelligence dalam penelitian dan produksi, serta Virtual Reality untuk peningkatan kompetensi karyawan. Perusahaan menekankan bahwa pengembangan vaksin memerlukan tahapan panjang, mulai riset, uji praklinis, uji klinis, hingga pemenuhan regulasi. Salah satu hasil penguasaan teknologi tersebut ialah novel oral polio vaccine type 2 (nOPV2), yang mendapat prakualifikasi WHO pada 2023. Bio Farma turut bekerja sama dengan WHO, UNICEF, Gates Foundation, dan CEPI, serta menjalin transfer teknologi dan manufaktur dengan mitra di Senegal dan Ghana. Pada penutupan DTIIF 2026, perusahaan menerima penghargaan Biomedicine Innovation untuk inovasi vaksin rotavirus Bio RV, yang dikembangkan untuk membantu mencegah diare pada bayi.
Tag: Bio Farma, vaksin, bioteknologi, imunisasi nasional, kesehatan