Isra Miraj 2026 Jadi Pengingat Kedudukan Shalat dalam Hidup Muslim
2026-07-19 06:06 WIB · aindari · 👁 938 dibaca

Menjelang Isra Miraj pada 16 Januari 2026, shalat kembali dipandang sebagai ibadah utama yang membentuk ketakwaan, akhlak, dan hubungan manusia dengan Allah SWT.
Peringatan Isra Miraj 2026 yang jatuh pada 16 Januari menjadi ruang refleksi bagi umat Islam untuk kembali menempatkan shalat sebagai inti ibadah. Peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha dipahami bukan hanya sebagai kejadian agung dalam sejarah Islam, tetapi juga berkaitan langsung dengan turunnya perintah shalat lima waktu dari Allah SWT.
Dalam kehidupan modern yang penuh kesibukan, shalat dipandang sebagai pengikat spiritual antara manusia dan Sang Pencipta. Ibadah ini tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ritual, melainkan fondasi yang menjaga arah hidup seorang Muslim. Momentum Isra Miraj juga dapat menjadi ajakan untuk memperbaiki amal, memperhalus akhlak, dan memperkuat hubungan dengan sesama.
Shalat memiliki kedudukan sentral karena disebut sebagai tiang agama. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kehidupan beragama memerlukan penyangga utama agar tetap kokoh. Dalam riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW menerangkan bahwa pokok segala urusan adalah Islam dan penyangganya adalah shalat. Maknanya, shalat menjadi ciri penting umat Nabi Muhammad SAW sekaligus jalan utama untuk mendekat kepada Allah SWT.
Kedudukan shalat juga terlihat dari penjelasan bahwa amal ini menjadi perkara pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat. Jika shalat seseorang terjaga, amal lain seperti puasa, sedekah, dan ibadah sunnah akan lebih bermakna. Sebaliknya, meninggalkan shalat tanpa alasan syar’i dinilai merusak fondasi ibadah. Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadus Shalihin menjelaskan bahwa baiknya shalat berkaitan dengan keselamatan, sedangkan rusaknya shalat membawa kerugian.
Meninggalkan shalat dengan sengaja juga dipandang sebagai dosa besar. Dalam ajaran Islam, mengabaikan kewajiban ini secara terus-menerus, terlebih bila disertai anggapan bahwa shalat tidak lagi wajib, dapat masuk dalam bentuk pengingkaran terhadap perintah Allah SWT. Riwayat Imam Muslim menyebut shalat sebagai pembeda antara seorang Muslim dan kekufuran. Al-Qur’an dalam Surah An-Nahl ayat 106 juga memuat peringatan keras bagi orang yang menerima kekufuran setelah beriman, kecuali dalam keadaan dipaksa sementara hatinya tetap teguh.
Selain shalat wajib lima waktu, Islam juga mengenal berbagai shalat sunnah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di antaranya tahajud, dhuha yang dikaitkan dengan permohonan kelapangan rezeki, istikharah untuk meminta petunjuk, serta shalat hajat ketika seseorang menghadapi kesulitan atau memiliki harapan tertentu. Ragam shalat ini menunjukkan luasnya ruang ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Keutamaan shalat juga disebut dalam Al-Qur’an. Surah Al-‘Ankabut ayat 45 menegaskan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Surah Al-Baqarah ayat 2-3 menggambarkan orang bertakwa sebagai mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki. Dengan demikian, Isra Miraj tidak hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai pengingat untuk menjaga shalat sebagai sumber ketakwaan dan pembentukan akhlak.
Tag: Isra Miraj, shalat, Islam, spiritualitas, gaya hidup