ERIA Dorong Cadangan Minyak Bersama dan Transformasi Hijau ASEAN
2026-11-06 17:03 WIB · aindari · 👁 815 dibaca
Kerja sama regional dinilai dapat menekan biaya cadangan minyak darurat sekaligus membantu industri ASEAN menghadapi tuntutan ekonomi hijau dan digital.
Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) mendorong negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama energi dan industri. Dorongan itu disampaikan dalam 2nd East Asia Media Caucus di Jakarta, yang mempertemukan peneliti serta jurnalis dari sejumlah negara Asia Tenggara. Forum membahas kesiapan menghadapi gangguan pasokan energi, efisiensi penyediaan cadangan minyak, serta peralihan menuju proses produksi yang lebih bersih.
Chief Operating Officer ERIA Takayuki Yamanaka mengatakan gangguan energi global memperlihatkan pentingnya kesiapan bersama. Menurut dia, penguatan ketahanan energi perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan hijau dan transformasi digital. Perpaduan tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing industri sekaligus memperdalam integrasi ekonomi kawasan.
Salah satu usulan yang dibahas ialah cadangan minyak darurat regional. Perhitungan ERIA menunjukkan, penyediaan dan penyimpanan cadangan tambahan melalui kerja sama antarnegara berpotensi membutuhkan biaya 2,19 miliar dolar AS, atau lebih dari Rp39 triliun, setiap tahun. Jika setiap negara menyiapkan cadangan sendiri dengan jumlah yang sama, biayanya diperkirakan mencapai 2,80 miliar dolar AS atau lebih dari Rp50 triliun. Skema bersama itu berpotensi menghemat sekitar 22 persen, setara 610 juta dolar AS atau lebih dari Rp10 triliun per tahun.
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi bahwa cadangan tetap dimiliki produsen atau mitra, sedangkan negara peserta mendapat hak pemakaian berdasarkan kesepakatan. Ongkos pengiriman saat keadaan darurat dan pengisian kembali persediaan belum termasuk dalam hitungan. Usulan ini masih membutuhkan kajian serta persetujuan pemerintah terkait. Ekonom Energi Senior ERIA Han Phoumin menilai hak akses saja belum cukup. Negara peserta juga harus menyiapkan prosedur pengeluaran stok, jenis bahan bakar yang sesuai, serta fasilitas distribusi. Uji coba sukarela dapat dipakai untuk menguji mekanisme itu sebelum terjadi gangguan pasokan.
Di sisi industri, Senior Policy Fellow ERIA Intan Murnira Ramli menyebut ASEAN menghadapi tantangan menjaga daya saing saat ekonomi bergerak menuju model yang lebih hijau dan digital. Survei ERIA terhadap perusahaan Jepang di ASEAN menunjukkan 53,3 persen responden telah mengambil langkah mengurangi emisi karbon. Namun, hanya 7,1 persen yang beralih ke pemasok beremisi lebih rendah atau meminta pemasok menekan emisi. Perusahaan kecil lokal ASEAN juga lebih jarang melakukan langkah serupa dibanding perusahaan besar, terutama karena keterbatasan dana dan kemampuan teknis.
Hambatan digital turut menjadi perhatian. Sebanyak 70,8 persen perusahaan Jepang yang disurvei menyebut kekurangan pekerja dengan keterampilan digital, sedangkan 64,7 persen menilai biaya teknologi terlalu tinggi. Peserta forum membahas perlunya investasi keterampilan, teknologi, pembiayaan, penyelarasan standar, dan konektivitas lintas negara. ASEAN Green Economy Framework Agreement (GEFA) disebut sebagai salah satu peluang untuk menarik investasi serta membuka usaha hijau. Implementasi agenda bersama dinilai berpotensi membantu kawasan membangun industri baru, memperkuat rantai nilai, dan menciptakan pekerjaan yang lebih baik.
Tag: ASEAN, ketahanan energi, cadangan minyak, ekonomi hijau, transformasi digital