Bali Utara Didorong Perkuat Konektivitas dan Nilai Tambah Komoditas
2026-11-06 17:11 WIB · aindari · 👁 699 dibaca
Buleleng dinilai membutuhkan akses transportasi lebih kuat, pariwisata berkualitas, serta hilirisasi pertanian, perikanan, dan kelautan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi Bali.
Pemerataan ekonomi Bali masih menghadapi persoalan karena kegiatan usaha dan investasi lebih banyak berpusat di wilayah selatan. Kabupaten Buleleng memandang penguatan Bali Utara perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi ekonomi Pulau Dewata, sehingga manfaat pembangunan tidak berhenti di kawasan tertentu.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Buleleng Putu Ayu Reika Nurhaeni menyampaikan kebutuhan tersebut dalam forum di Singaraja. Menurut dia, pengembangan kawasan utara perlu ditopang konektivitas yang lebih baik, pariwisata dengan mutu lebih tinggi, serta pengolahan komoditas lokal agar menghasilkan nilai tambah.
Ketimpangan terlihat dari kontribusi ekonomi kawasan Denpasar, Badung, dan Gianyar atau Sarbagia. Tiga daerah itu menyumbang 58 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Bali. Pada 2026, realisasi penanaman modal di wilayah tersebut mencapai Rp30,49 triliun, setara 81,64 persen dari keseluruhan investasi yang disebutkan dalam materi tersebut.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menggelar Balinomics untuk mempertemukan pemangku kepentingan dan mendorong kerja sama pembangunan. Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani menilai penciptaan nilai tambah pada komoditas unggulan, terutama dari Bali Utara, dapat memperluas kesempatan kerja sekaligus mendukung penyebaran aktivitas ekonomi.
Pengusaha Alisjahbana Haliman menyebut kopi, rumput laut, dan anggur sebagai sejumlah komoditas Bali yang memiliki pasar di dalam maupun luar negeri. Namun, penguatan rantai nilai masih menjadi pekerjaan rumah. Hal itu mencakup jaminan mutu, kesinambungan pasokan, serta perluasan akses pasar. Buleleng sendiri selama ini dikenal memiliki sektor perkebunan, hortikultura, dan perikanan.
Dari sisi akses, hubungan Bali Selatan dan Bali Utara mulai diperkuat melalui pembangunan jalan pintas. Sejumlah titik telah selesai, sedangkan bagian lain masih dikerjakan. Kendati demikian, jalur kereta api yang tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 belum terwujud. Aturan itu memuat jaringan kereta di kawasan perkotaan Sarbagia, koridor Bali Utara-Bali Selatan, dan jalur melingkar yang mengitari Bali.
Rencana lain yang sedang bergerak ialah pembangunan trem listrik berbasis baterai di Bali Selatan. Kerja sama antara Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT Kereta Api Indonesia dijadwalkan ditandatangani pada Selasa, 1 September 2026. Rute yang direncanakan menghubungkan Bandara Ngurah Rai dan Canggu, dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp2 triliun. Proyek tersebut berada di Bali Selatan, sementara koneksi rel menuju Bali Utara masih menjadi agenda yang belum terealisasi.
Tag: Buleleng, Bali Utara, hilirisasi, konektivitas, pemerataan ekonomi