Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Teknologi dan Regenerasi Petani Jadi Penopang Ketahanan Pangan Jangka Panjang

2026-11-08 06:05 WIB · aindari · 👁 586 dibaca

Kementerian Pertanian mendorong riset, mekanisasi, dan peran generasi muda untuk menjaga swasembada pangan di tengah perubahan global.

Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet menilai keberlanjutan swasembada pangan Indonesia bergantung pada kemajuan teknologi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kedua unsur tersebut perlu berjalan bersama dalam proses pembaruan sektor pertanian nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan Edu Tani di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, yang dikonfirmasi di Jakarta pada Sabtu.

Alim menyebut sektor pertanian menghadapi tekanan dari perubahan iklim, perkembangan teknologi yang cepat, pergerakan rantai pasok dunia, dan ketidakpastian geopolitik. Kondisi itu menuntut sistem pertanian yang lebih lentur, modern, dan mampu menyesuaikan diri. Kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan regenerasi petani, sebab keterlibatan anak muda diperlukan agar pembangunan pertanian memiliki penerus dengan kemampuan yang sesuai.

Tantangan pangan global turut mendorong sejumlah negara memperkuat persediaan mereka. Alim menyampaikan, 33 negara sedang menyiapkan stok pangan darurat sebagai antisipasi terhadap kemungkinan krisis. Dalam situasi itu, Indonesia dinilai patut bersyukur karena telah mencapai swasembada pangan dengan persediaan yang cukup, terutama pada delapan komoditas strategis. Capaian tersebut, menurut dia, perlu dipertahankan agar tidak berhenti sebagai keberhasilan sementara.

Untuk memperkuat fondasi itu, riset dan pengembangan teknologi perlu ditingkatkan melalui perguruan tinggi, lembaga penelitian, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta unit riset di Kementerian Pertanian. Hasil penelitian diharapkan melahirkan terobosan yang menaikkan produktivitas sekaligus mengurangi biaya produksi. Pengembangan varietas unggul, penggunaan mekanisasi, dan penerapan teknik budi daya yang lebih efisien menjadi beberapa jalur yang dapat ditempuh.

Penerapan inovasi diarahkan untuk menghasilkan produksi lebih besar dengan penggunaan input yang lebih hemat. Efisiensi tersebut dinilai penting bagi produktivitas dan daya saing petani. Namun, Alim mengingatkan bahwa teknologi tidak akan memberi hasil maksimal tanpa tenaga manusia yang memiliki kapasitas, karakter, dan kemampuan penerapan di lapangan.

Karena itu, mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut diajak menyiapkan diri sebagai bagian dari generasi penerus pertanian. Alim berharap anak muda tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat, jiwa kewirausahaan, dan kepedulian untuk berkontribusi nyata. Keterlibatan mereka dinilai penting untuk membangun pertanian yang lebih maju serta menjaga swasembada pangan tetap bertahan dalam jangka panjang.

Tag: swasembada pangan, inovasi pertanian, regenerasi petani, teknologi pertanian, ketahanan pangan