Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Dari Wartawan Jadi Penjaga Sungai: Kisah Misman dan Kebangkitan Karang Mumus

2026-07-27 17:16 WIB · aindari · 👁 981 dibaca

Seorang mantan wartawan di Samarinda meninggalkan profesinya demi memungut sampah di Sungai Karang Mumus, memulai gerakan yang kini melibatkan ribuan orang.

Sungai Karang Mumus pernah menjadi urat nadi kehidupan warga Samarinda, Kalimantan Timur. Sepanjang 34,7 kilometer, sungai ini mengalirkan air jernih yang menjadi tumpuan nelayan, tempat mandi, dan sumber penghidupan bagi banyak keluarga yang tinggal di sekitar alirannya.

Namun kondisi itu berubah seiring waktu. Sampah mulai berdatangan dari berbagai arah — dilempar dari jembatan, dibuang dari kendaraan, hingga menumpuk dari permukiman padat yang berdiri rapat di tepi sungai. Air yang dulu bening berangsur keruh dan berbau. Perahu nelayan tak lagi leluasa melintas, dan sungai yang dulu dihormati perlahan hanya dipandang sebagai saluran pembuangan.

Ketika banjir mulai rutin melanda, sungai kerap dijadikan kambing hitam. Padahal persoalannya bukan pada sifat air yang mengalir, melainkan pada perilaku manusia yang mempersempit sempadan, meluruskan alur, bahkan mendirikan bangunan di atas badan sungai. Daerah aliran sungai sejatinya bukan sekadar jalur air, melainkan ekosistem hidup yang memiliki keseimbangan tersendiri — dan ketika keseimbangan itu terganggu, dampaknya tak terelakkan.

Di tengah kondisi itulah Misman, pria kelahiran Samarinda 4 April 1959, memilih untuk bertindak. Selama puluhan tahun ia bekerja sebagai wartawan, menulis dan menyuarakan pentingnya Sungai Karang Mumus melalui media. Namun ia menyadari bahwa kata-kata saja tidak cukup mengubah kebiasaan yang sudah lama mengakar di masyarakat.

Pada Juli 2015, Misman mengambil keputusan yang mengubah arah hidupnya. Ia mengesampingkan profesi jurnalistiknya dan turun langsung ke pinggir sungai, memungut sampah seorang diri. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada liputan besar — hanya seorang pria dan tumpukan sampah yang ia angkat satu per satu.

Langkah sunyi itu ternyata bukan akhir, melainkan awal. Gerakan yang dimulai sendirian itu berkembang hingga melibatkan ribuan orang. Karang Mumus, sungai yang sempat dianggap mati, kembali mendapat perhatian dan perawatan dari tangan-tangan yang peduli.

Kisah Misman mengingatkan bahwa pemulihan lingkungan tidak selalu lahir dari kebijakan besar atau anggaran pemerintah. Kadang ia bermula dari satu orang yang memilih untuk tidak lagi diam — dan ketekunan itu, pelan-pelan, menggerakkan banyak orang lainnya.

Tag: Karang Mumus, Samarinda, lingkungan hidup, sungai, Kalimantan Timur