El Niño Terkuat dalam Sejarah Pernah Membunuh 50 Juta Jiwa, Ini yang Terjadi
2026-07-31 06:08 WIB · aindari · 👁 406 dibaca

Sekitar 150 tahun lalu, El Niño dengan intensitas ekstrem memicu bencana kelaparan dan kekeringan massal yang merenggut puluhan juta nyawa di berbagai belahan dunia.
Fenomena iklim El Niño bukan hal baru bagi umat manusia, namun skala kehancuran yang pernah ditimbulkannya pada abad ke-19 jauh melampaui apa yang dikenal generasi modern. Sekitar 150 tahun lalu, El Niño dengan kekuatan luar biasa — yang kini disebut sebagai salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah — menjadi pemicu bencana kemanusiaan dengan korban jiwa mencapai 50 juta orang.
Peristiwa tersebut terjadi pada era ketika infrastruktur peringatan dini dan sistem distribusi pangan global belum ada. El Niño yang berlangsung saat itu memicu kekeringan panjang di berbagai kawasan tropis dan subtropis, termasuk Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin. Gagal panen terjadi secara bersamaan di banyak wilayah, memicu kelaparan massal yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Dampak terbesar dirasakan oleh populasi yang bergantung penuh pada pertanian subsisten. Tanpa cadangan pangan memadai dan tanpa bantuan lintas negara yang terorganisir, jutaan orang meninggal bukan semata karena kekeringan, melainkan karena kelaparan, penyakit yang menyertai malnutrisi, serta konflik yang dipicu kelangkaan sumber daya.
Para ilmuwan iklim menggunakan peristiwa historis ini sebagai referensi untuk memahami batas ekstrem yang mampu dicapai El Niño. Studi terhadap data paleoklimat dan catatan sejarah menunjukkan bahwa El Niño super semacam itu, meski jarang, memiliki potensi untuk berulang. Pemahaman ini menjadi dasar bagi lembaga-lembaga seperti BMKG dalam menyusun skenario mitigasi untuk El Niño yang diprediksi menguat pada 2026.
Merespons proyeksi El Niño kuat tahun ini, sejumlah lembaga pemerintah Indonesia telah meningkatkan kesiapsiagaan. BMKG menggencarkan program modifikasi cuaca dan mendorong mitigasi lintas sektor, sementara Polri menyiagakan puluhan ribu personel untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Di Aceh, Badan Penanggulangan Bencana Daerah mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berada di bawah kondisi normal.
Kerentanan sumber daya air juga menjadi perhatian serius. Musim kemarau 2026 yang dibayangi El Niño kuat berpotensi menekan ketersediaan air di berbagai daerah, mengancam sektor pertanian dan kebutuhan dasar masyarakat. Sejarah 150 tahun lalu menjadi pengingat bahwa El Niño dalam intensitas ekstrem bukan sekadar soal cuaca — melainkan ujian ketahanan peradaban.
Tag: El Niño, perubahan iklim, bencana sejarah, kekeringan, BMKG