Gempa Bumi di Antara Ilmu Geologi dan Pandangan Keagamaan: Dua Perspektif yang Saling Melengkapi
2026-07-31 17:04 WIB · aindari · 👁 302 dibaca

Majelis Ulama Indonesia memandang gempa bumi sebagai fenomena alam yang dapat dijelaskan sekaligus melalui kacamata sains dan ajaran Islam.
Gempa bumi bukan sekadar bencana yang datang tiba-tiba. Di balik guncangan yang merusak itu, terdapat dua cara pandang besar yang selama ini berkembang di masyarakat: penjelasan ilmiah tentang pergerakan lempeng bumi, dan pemaknaan keagamaan yang merujuk pada teks-teks suci. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengangkat kedua perspektif ini sebagai satu kesatuan yang tidak perlu dipertentangkan.
Dalam pandangan sains, gempa bumi merupakan peristiwa geologi yang terjadi akibat aktivitas tektonik di dalam bumi. Pergerakan lempeng-lempeng besar di kerak bumi menghasilkan energi yang kemudian merambat ke permukaan dalam bentuk gelombang seismik. Proses ini berlangsung secara alamiah dan terus-menerus, menjadikan gempa sebagai bagian tak terpisahkan dari dinamika planet yang kita huni.
Dari sisi keislaman, MUI merujuk pada Al-Qur'an dan hadis untuk memaknai fenomena ini. Gempa bumi dipandang sebagai bagian dari sunnatullah — hukum-hukum ketetapan Allah yang berlaku di alam semesta. Artinya, kejadian ini bukan sesuatu yang acak atau di luar sistem, melainkan bagian dari cara kerja alam yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Pendekatan ini penting karena masyarakat Indonesia, yang mayoritas Muslim, kerap mencari makna spiritual di balik bencana alam. MUI menegaskan bahwa memaknai gempa secara keagamaan tidak berarti mengabaikan penjelasan ilmiah. Keduanya bisa berjalan beriringan: sains menjelaskan mekanisme terjadinya gempa, sementara ajaran agama memberikan kerangka moral dan spiritual dalam menyikapinya.
Sudut pandang ini juga relevan dalam konteks kesiapsiagaan bencana. Pemahaman bahwa gempa adalah sunnatullah mendorong umat untuk tidak hanya berdoa dan bersabar, tetapi juga berikhtiar — termasuk membangun hunian tahan gempa, memahami jalur evakuasi, dan mendukung sistem peringatan dini. Respons aktif terhadap bencana justru sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang menganjurkan usaha nyata di samping doa.
Dengan mempertemukan narasi sains dan agama, MUI berupaya memberikan pemahaman yang utuh kepada publik. Di negara yang secara geografis berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan rawan gempa, literasi kebencanaan yang dipadukan dengan kesadaran spiritual diharapkan dapat membentuk masyarakat yang lebih tangguh dan siap menghadapi risiko.
Tag: gempa bumi, geologi, MUI, sunnatullah, bencana alam