Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Kapal Tanker Diserang Iran di Selat Hormuz, AS Balas dengan Sanksi Baru

2026-08-01 07:01 WIB · aindari · 👁 635 dibaca

Iran menyerang dua kapal tanker yang sedang dikawal militer Amerika Serikat di Selat Hormuz, memicu respons sanksi Washington terhadap entitas pendukung IRGC dan maskapai Mahan Air.

Ketegangan di perairan Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker yang tengah berada di bawah pengawalan militer Amerika Serikat. Insiden ini menambah panjang daftar konfrontasi di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, tempat sebagian besar ekspor minyak kawasan Teluk Persia melintas.

Serangan terhadap dua tanker tersebut terjadi di tengah pengawalan langsung angkatan laut AS, sebuah eskalasi yang menunjukkan keberanian Iran untuk mengambil tindakan militer meski ada kehadiran pasukan Amerika di lokasi yang sama. Rincian lebih lanjut mengenai kondisi kapal dan awak belum sepenuhnya terungkap dari materi yang tersedia.

Di sisi diplomatik, Iran juga dilaporkan menolak proposal yang diajukan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz. Oman selama ini dikenal sebagai mediator regional yang kerap menjembatani komunikasi antara Teheran dan pihak Barat. Penolakan Iran atas tawaran tersebut mengisyaratkan bahwa Teheran belum bersedia menerima skema pengawasan atau pengelolaan bersama atas jalur air yang selama ini mereka anggap sebagai kartu tekanan geopolitik.

Merespons serangkaian provokasi ini, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah entitas yang dinilai mendukung Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk maskapai penerbangan Mahan Air. Sanksi juga menyasar perusahaan-perusahaan maritim Iran yang diduga menggunakan Bitcoin sebagai instrumen pembayaran untuk menghindari sistem keuangan internasional yang telah memblokir akses Iran.

Penggunaan mata uang kripto oleh entitas Iran dalam transaksi internasional menjadi sorotan tersendiri, mencerminkan upaya Teheran beradaptasi terhadap tekanan sanksi yang telah berlangsung bertahun-tahun. Langkah ini memperlihatkan bahwa jaringan pendanaan yang mendukung operasi IRGC terus mencari celah di luar jangkauan mekanisme sanksi konvensional.

Rangkaian peristiwa ini berpotensi mempengaruhi sentimen pasar energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan titik transit vital bagi pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini, meski bersifat sementara, historis mampu memicu volatilitas harga minyak dan memperburuk ketidakpastian di pasar komoditas internasional. Eskalasi lebih lanjut antara Washington dan Teheran akan menjadi faktor risiko yang terus dipantau pelaku pasar maupun komunitas diplomatik global.

Tag: Iran, Selat Hormuz, Amerika Serikat, IRGC, Sanksi