Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Indonesia Dorong World Mangrove Center sebagai Pusat Rujukan Global Pengelolaan Pesisir

2026-08-01 17:12 WIB · aindari · 👁 945 dibaca

Dengan menguasai hampir seperempat mangrove dunia, Indonesia berupaya mengubah kekayaan alam menjadi kepemimpinan ilmiah dan diplomatik melalui inisiatif World Mangrove Center.

Kementerian Kehutanan Indonesia tengah menggencarkan diplomasi lingkungan melalui inisiatif bernama World Mangrove Center (WMC), sebuah platform kolaborasi internasional yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat pengetahuan dan tata kelola mangrove di tingkat global. Langkah ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa meskipun Indonesia memiliki sekitar 3,44 juta hektare mangrove — nyaris seperempat dari seluruh mangrove di muka bumi — negara ini belum menjadi acuan utama dunia dalam riset maupun kebijakan pengelolaan ekosistem pesisir.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah Indonesia aktif memperkenalkan WMC di sejumlah forum multilateral. Inisiatif ini telah dibawa ke pertemuan ASEAN Working Group on Forest Management (AWG-FM) di Kamboja serta forum ke-30 APEC Experts Group on Illegal Logging and Associated Trade (EGILAT) di Shenzhen, Tiongkok. Pada forum EGILAT tersebut, Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan Kementerian Kehutanan, Krisdianto, secara langsung menawarkan kerja sama penelitian, inovasi, dan penguatan kapasitas pengelolaan pesisir kepada Australia.

Kementerian Kehutanan juga menyatakan akan terus memperjuangkan pengakuan internasional terhadap WMC melalui sejumlah ajang penting ke depan, termasuk Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30), Sidang ke-21 United Nations Forum on Forests (UNFF21), dan forum APEC. Rangkaian diplomasi ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam memosisikan WMC bukan sebagai sekadar forum tambahan, melainkan sebagai simpul yang menghubungkan riset, kebijakan, pembiayaan, dan praktik pengelolaan mangrove lintas negara.

Momentum bagi inisiatif ini diperkuat oleh pergeseran cara pandang dunia terhadap mangrove. Ekosistem yang semula lebih dikenal sebagai benteng alami pelindung garis pantai kini semakin diakui sebagai solusi berbasis alam untuk menghadapi krisis iklim. Mangrove terbukti mampu menyerap karbon dalam jumlah signifikan, menjaga keanekaragaman hayati, menekan risiko abrasi, sekaligus menopang kehidupan ekonomi masyarakat pesisir. Perubahan persepsi ini membuka peluang bagi negara-negara yang berpengalaman mengelola mangrove untuk memainkan peran lebih besar dalam arsitektur tata kelola lingkungan global.

Indonesia memiliki modal kuat untuk mengisi peran tersebut. Pengalaman panjang dalam konservasi, rehabilitasi, dan pengelolaan ekosistem pesisir tropis menjadi landasan yang relevan. Tantangan utamanya bukan lagi soal membuktikan besarnya sumber daya alam yang dimiliki, melainkan bagaimana mentransformasikan pengalaman lapangan menjadi pengetahuan yang dapat diadopsi negara lain.

Meski demikian, pertanyaan kritis tetap mengemuka. Dunia sudah memiliki beragam organisasi dan forum yang membahas perubahan iklim, kehutanan, dan keanekaragaman hayati. WMC perlu menunjukkan secara meyakinkan celah mana yang belum terisi oleh lembaga-lembaga yang sudah ada. Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah WMC mampu tumbuh menjadi pusat rujukan internasional yang sesungguhnya, atau justru hanya menambah panjang daftar institusi tanpa dampak substansial.

Tag: World Mangrove Center, diplomasi lingkungan, mangrove Indonesia, perubahan iklim, Kementerian Kehutanan