Puluhan Ribu Imigran Kembali ke Maroko usai Gelombang Penyeberangan Massal ke Ceuta
2026-08-01 20:01 WIB · aindari · 👁 827 dibaca

Dalam waktu 30 jam, sekitar 69.500 imigran meninggalkan Ceuta dan kembali ke Maroko, sementara jumlah korban tewas dalam krisis migrasi ini mencapai 67 jiwa.
Krisis migrasi di Ceuta, wilayah otonom Spanyol yang terletak di pesisir utara Afrika, memasuki fase baru setelah puluhan ribu imigran memilih kembali ke Maroko. Data kepolisian yang dikutip kantor berita Spanyol EFE menyebutkan sekitar 69.500 orang telah menyeberang kembali ke wilayah Maroko dalam kurun waktu 30 jam terakhir. Angka tersebut mencakup mereka yang sudah berada di Ceuta sebelum gelombang penyeberangan massal pada Kamis (30/7), termasuk individu yang diketahui bolak-balik melintasi perbatasan lebih dari sekali.
Arus balik besar-besaran ini terjadi setelah Madrid dan Rabat mengumumkan rencana repatriasi bersama. Faktor lain yang turut mendorong kepulangan adalah minimnya akses terhadap kebutuhan pokok di Ceuta, mulai dari toko, kawasan komersial, hingga tempat makan yang sangat terbatas bagi para pendatang.
Sebelum arus balik ini berlangsung, otoritas Spanyol pada Jumat (31/7) memperkirakan lebih dari 49.000 orang telah mencapai Ceuta dengan cara berenang atau berjalan kaki dari Kota Fnideq di sisi Maroko. Lonjakan jumlah penyeberang yang luar biasa itu memaksa pemerintah Spanyol mengirimkan pasukan keamanan tambahan ke wilayah tersebut, termasuk personel militer.
Di tengah upaya penanganan krisis, Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat bahwa jumlah korban jiwa di kalangan imigran yang berusaha mencapai wilayah Spanyol dari Maroko telah meningkat menjadi 67 orang. Angka ini menunjukkan betapa berbahayanya jalur penyeberangan yang ditempuh para migran.
Untuk mencegah gelombang penyeberangan susulan, pemerintah Spanyol mulai memasang sistem pengaman di pemecah gelombang perbatasan Tarajal sejak Sabtu. Kementerian Dalam Negeri menjelaskan bahwa barikade bertenaga udara sepanjang 500 meter dipasang dengan ketinggian 30 hingga 70 sentimeter di atas permukaan air dan bagian terendam hingga kedalaman satu meter. Sistem ini dilengkapi pelampung berjangkar yang disediakan Angkatan Laut Spanyol, sementara celah di bagian tengah sengaja dibiarkan terbuka agar kapal-kapal Garda Sipil tetap dapat berpatroli di kawasan perbatasan.
Krisis di Ceuta menjadi salah satu episode migrasi paling dramatis yang pernah dialami Spanyol. Kombinasi antara tekanan diplomatik melalui rencana repatriasi bersama dan penguatan infrastruktur keamanan perbatasan menjadi strategi ganda yang ditempuh Madrid untuk mengendalikan situasi. Namun, korban jiwa yang terus bertambah menegaskan bahwa dimensi kemanusiaan dari krisis ini masih jauh dari terselesaikan.
Tag: krisis migrasi Ceuta, imigran Maroko, perbatasan Spanyol, repatriasi, keamanan perbatasan