Houthi Klaim Delapan Tanker Minyak Saudi Terpaksa Alihkan Rute akibat Blokade Laut Merah
2026-08-02 06:09 WIB · aindari · 👁 408 dibaca

Kelompok Houthi menyatakan delapan kapal tanker minyak Arab Saudi mengubah haluan menuju Tanjung Harapan sebagai dampak dari blokade angkatan laut yang mereka terapkan di Laut Merah.
Ketegangan antara kelompok Houthi Yaman dan Arab Saudi kembali meningkat setelah Houthi mengklaim berhasil memaksa delapan kapal tanker minyak milik Arab Saudi mengubah jalur pelayaran mereka. Menurut klaim tersebut, kapal-kapal itu dialihkan menuju Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di ujung selatan Afrika, meninggalkan rute Laut Merah yang selama ini menjadi jalur utama perdagangan minyak internasional.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyampaikan klaim itu melalui platform media sosial X. Ia menyebut pengalihan rute tersebut sebagai hasil dari strategi yang ia istilahkan "blokade dibalas blokade." Sarea menegaskan bahwa pihaknya akan terus menerapkan blokade terhadap kapal-kapal yang terafiliasi dengan Arab Saudi dan memperingatkan bahwa kapal-kapal tersebut akan tetap menjadi target serangan di mana pun mereka berada.
Sarea juga menyatakan bahwa kelompoknya tidak akan berhenti berupaya mengakhiri apa yang mereka anggap sebagai blokade Saudi terhadap wilayah-wilayah di bawah kendali Houthi, serta untuk memulihkan apa yang disebutnya sebagai hak-hak rakyat Yaman. Pernyataan ini menunjukkan bahwa eskalasi di perairan strategis tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Klaim terbaru ini merupakan kelanjutan dari langkah Houthi pada 20 Juli lalu, ketika mereka mengumumkan larangan maritim terhadap pelayaran yang berkaitan dengan Arab Saudi di Laut Merah. Kelompok tersebut menyatakan bahwa kebijakan itu merupakan respons atas dugaan blokade yang diterapkan Saudi terhadap wilayah kekuasaan mereka. Sejak pengumuman tersebut, Houthi mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone yang menyasar kapal-kapal terkait Saudi serta infrastruktur energi.
Di sisi lain, koalisi yang dipimpin Arab Saudi juga merespons dengan melancarkan serangan udara terhadap apa yang mereka sebut sebagai target-target militer utama milik Houthi di Yaman. Serangan ini menjadi yang pertama diakui secara resmi oleh pihak Saudi sejak tahun 2022, menandai kembalinya permusuhan terbuka setelah periode yang relatif tenang selama beberapa tahun.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran serius terhadap keamanan di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, dua jalur pelayaran yang sangat vital bagi perdagangan global. Risiko terjadinya konfrontasi militer yang lebih luas semakin nyata seiring kedua pihak memperlihatkan sikap yang semakin agresif.
Konflik di Yaman sendiri telah berlangsung sejak akhir 2014, ketika Houthi merebut ibu kota Sana'a dan menguasai sebagian besar wilayah utara negara itu. Situasi tersebut mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer pada 2015 guna mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Kini, dengan kembali memanasnya ketegangan di jalur laut strategis ini, stabilitas kawasan kembali dipertaruhkan.
Tag: Houthi, Arab Saudi, Laut Merah, blokade maritim, Yaman