Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Tensi Laut China Selatan Memanas: Beijing Kerahkan Kapal Perang dan Jet Tempur

2026-08-02 05:01 WIB · aindari · 👁 500 dibaca

Pengerahan kekuatan militer China di Laut China Selatan memicu eskalasi ketegangan dengan negara-negara sekitar, termasuk Filipina yang bersikukuh mempertahankan putusan arbitrase internasional.

Situasi di Laut China Selatan kembali memanas setelah China mengerahkan kapal perang dan jet tempur di kawasan perairan yang menjadi sengketa sejumlah negara. Langkah militer Beijing ini menambah intensitas ketegangan yang sudah lama membara di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Pengerahan aset militer tersebut mencakup wilayah yang luas, mulai dari Second Thomas Shoal hingga perairan Natuna Utara. Second Thomas Shoal merupakan titik konflik yang kerap memicu gesekan antara China dan Filipina, sementara Natuna Utara berbatasan langsung dengan zona ekonomi eksklusif Indonesia. Pergerakan militer di kedua titik ini menunjukkan ambisi Beijing untuk memperkuat cengkeramannya atas klaim teritorial yang didasarkan pada apa yang disebut garis sembilan putus-putus.

Filipina merespons situasi ini dengan sikap tegas. Manila menegaskan komitmennya untuk mempertahankan putusan Mahkamah Arbitrase Permanen tahun 2016 yang menolak klaim historis China atas sebagian besar Laut China Selatan. Putusan tersebut menjadi landasan hukum utama bagi Filipina dan negara-negara lain dalam menentang ekspansi Beijing di kawasan itu.

Pergerakan kapal perang dan jet tempur China di sekitar Second Thomas Shoal berpotensi memperburuk hubungan bilateral Beijing-Manila yang sudah rapuh. Filipina selama ini mempertahankan kehadiran militer terbatas di karang tersebut melalui kapal angkatan laut yang sengaja dikandaskan, dan setiap upaya China untuk menghalangi akses ke lokasi itu selalu memicu protes keras dari pemerintah Filipina.

Perluasan aktivitas militer China hingga ke perairan Natuna Utara juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Kawasan ini berada di dekat wilayah kedaulatan Indonesia, dan setiap eskalasi di sana dapat menyeret lebih banyak negara ke dalam dinamika konflik Laut China Selatan.

Ketegangan yang meningkat ini menjadi pengingat bahwa sengketa Laut China Selatan tetap menjadi salah satu titik nyala paling berbahaya di kawasan Asia-Pasifik. Pengerahan kekuatan militer oleh Beijing, di satu sisi, dan sikap teguh Filipina terhadap putusan arbitrase, di sisi lain, menciptakan kondisi yang rawan eskalasi lebih lanjut. Komunitas internasional terus memantau perkembangan ini dengan saksama, mengingat dampaknya yang luas terhadap stabilitas regional dan keamanan jalur perdagangan maritim global.

Tag: Laut China Selatan, China, Filipina, ketegangan militer, Natuna Utara