Mohammed bin Salman Desak Trump Batalkan Rencana Serangan terhadap Iran
2026-08-02 10:31 WIB · aindari · 👁 342 dibaca

Putra Mahkota Arab Saudi dilaporkan menelepon Presiden AS untuk meminta de-eskalasi di tengah meningkatnya ancaman militer terhadap Teheran.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah terungkap bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman secara langsung menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui sambungan telepon. Dalam percakapan tersebut, pemimpin de facto Kerajaan Saudi menyuarakan kekhawatirannya atas laporan yang menyebutkan Washington tengah menyiapkan operasi militer berskala besar terhadap Iran.
Seorang pejabat AS mengungkapkan kepada media bahwa Riyadh meminta kejelasan mengenai langkah-langkah yang hendak diambil oleh pemerintahan Trump. Lebih jauh, sumber lain yang mengetahui isi pembicaraan menyatakan bahwa Mohammed bin Salman secara tegas mendorong Trump untuk menurunkan tensi dan mengurungkan niat menyerang Iran. Komunikasi ini terjadi hanya sehari setelah Trump secara terbuka mengancam akan meluncurkan serangan yang digambarkannya sangat keras terhadap Teheran.
Situasi semakin tegang ketika sejumlah kedutaan besar AS di wilayah Timur Tengah mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga negara Amerika terkait potensi eskalasi. Media Israel turut memberitakan bahwa aparat pertahanan negara tersebut sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan besar-besaran AS ke Iran, menambah lapisan kecemasan di kawasan.
Dari sisi Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan serangkaian komunikasi diplomatik dengan sejumlah negara. Araghchi menghubungi para menteri luar negeri Turki, Pakistan, dan Arab Saudi untuk membahas perkembangan terkini. Dalam pembicaraan itu, ia menegaskan bahwa segala bentuk agresi dari AS maupun Israel akan dijawab Iran dengan respons yang tegas dan proporsional.
Baik Gedung Putih maupun Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington dilaporkan menolak memberikan tanggapan resmi mengenai isi percakapan antara Mohammed bin Salman dan Trump. Sikap diam kedua pihak ini justru memperkuat spekulasi mengenai seriusnya pembahasan yang berlangsung di antara dua pemimpin tersebut.
Dinamika ini memperlihatkan posisi rumit Arab Saudi yang berada di antara dua kekuatan besar. Di satu sisi, Riyadh merupakan sekutu strategis Washington, namun di sisi lain, konflik terbuka dengan Iran berpotensi membawa dampak keamanan dan ekonomi yang sangat besar bagi seluruh kawasan Teluk. Langkah Mohammed bin Salman untuk secara proaktif mendorong de-eskalasi menunjukkan bahwa negara-negara Teluk tidak menginginkan perang berskala besar pecah di halaman rumah mereka sendiri.
Tag: Arab Saudi, Iran, Donald Trump, Mohammed bin Salman, Timur Tengah