Ketegangan AS-Iran Mereda: Trump Urungkan Serangan Setelah Klaim Kesepakatan Soal Selat Hormuz
2026-08-02 11:01 WIB · aindari · 👁 354 dibaca

Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran dengan mengklaim telah tercapai kesepakatan pembukaan penuh Selat Hormuz, di tengah eskalasi ancaman yang melibatkan sejumlah negara Timur Tengah.
Situasi geopolitik di Timur Tengah sempat memanas tajam sebelum akhirnya meredam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Trump mengklaim keputusan itu diambil karena telah tercapai kesepakatan yang membuka akses penuh Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
Sebelum pembatalan tersebut, AS dilaporkan telah mempersiapkan operasi pengeboman besar-besaran yang menargetkan infrastruktur energi Iran. Rencana serangan ini memicu reaksi keras dari Teheran yang dilaporkan bersiap melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur utama Israel jika konflik terus meningkat.
Tidak hanya Israel yang menjadi sasaran ancaman Iran. Teheran juga disebut menargetkan fasilitas energi di sejumlah negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, sebagai respons jika AS kembali melancarkan serangan. Ancaman ini menunjukkan betapa luasnya potensi eskalasi konflik yang bisa terjadi di kawasan tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman melakukan komunikasi langsung dengan Trump melalui sambungan telepon. Pembicaraan ini terjadi setelah AS menunjukkan kesiapan untuk mengebom infrastruktur energi Iran secara masif, yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Meski serangan dibatalkan, Trump sebelumnya sempat melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa AS hanya menginginkan kemenangan dalam menghadapi Teheran dan tidak menutup kemungkinan meluncurkan serangan besar jika situasi menuntut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun eskalasi militer langsung berhasil dihindari untuk saat ini, ketegangan antara kedua negara masih jauh dari kata selesai.
Pembatalan serangan dan klaim adanya kesepakatan soal Selat Hormuz berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar energi global yang sebelumnya tertekan oleh ancaman konflik terbuka. Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berdampak langsung pada harga minyak internasional.
Dinamika ini menegaskan betapa rapuhnya keseimbangan keamanan di Timur Tengah, di mana satu keputusan dari Washington atau Teheran dapat memicu reaksi berantai yang melibatkan banyak negara sekaligus mengancam stabilitas ekonomi global.
Tag: AS-Iran, Selat Hormuz, Donald Trump, Timur Tengah, geopolitik