Snapchat dan LinkedIn Kompak Ambil Langkah Tegas Melawan Konten Buatan AI Berkualitas Rendah
2026-08-02 17:04 WIB · aindari · 👁 578 dibaca

Dua platform sosial besar secara bersamaan memperketat kebijakan terhadap konten yang sepenuhnya dihasilkan oleh kecerdasan buatan demi melindungi kualitas pengalaman pengguna.
Gelombang pengetatan terhadap konten buatan kecerdasan buatan (AI) di media sosial semakin menguat. Snapchat dan LinkedIn kini sama-sama mengambil langkah konkret untuk menekan peredaran materi yang sepenuhnya diproduksi oleh AI, terutama yang dinilai rendah kualitasnya dan berpotensi menyesatkan pengguna.
Snapchat memutuskan untuk tidak lagi merekomendasikan video yang dibuat sepenuhnya oleh AI di fitur Spotlight, kanal konten publik milik platform tersebut. Langkah ini berarti sistem algoritma Snapchat tidak akan mendorong video-video semacam itu ke hadapan pengguna secara luas. Selain itu, Snapchat juga menghentikan pemberian reward atau imbalan bagi kreator yang mengunggah video AI di Spotlight, sebuah sinyal kuat bahwa platform ini ingin memprioritaskan konten autentik buatan manusia.
Di sisi lain, LinkedIn juga memperkenalkan mekanisme baru yang memungkinkan penggunanya melaporkan konten AI berkualitas rendah, yang kerap disebut sebagai "AI slop". Istilah ini merujuk pada postingan yang dihasilkan secara otomatis oleh AI tanpa sentuhan personal, sering kali berupa teks generik yang membanjiri linimasa tanpa memberikan nilai tambah. Dengan fitur pelaporan baru ini, pengguna LinkedIn kini bisa secara aktif menandai konten semacam itu agar ditinjau oleh platform.
Keputusan LinkedIn ini sejalan dengan komitmen platform tersebut untuk menjaga keunikan suara personal setiap penggunanya. Alih-alih mendorong penggunaan AI untuk menulis ulang atau menghasilkan konten secara massal, LinkedIn memilih pendekatan yang menempatkan autentisitas dan orisinalitas sebagai prioritas utama dalam ekosistem kontennya.
Kedua langkah ini mencerminkan tren yang semakin meluas di industri teknologi, di mana platform-platform besar mulai menyadari bahwa membiarkan konten AI tanpa filter justru dapat menurunkan kualitas pengalaman pengguna secara keseluruhan. Banjir konten otomatis yang tidak bermakna berpotensi menggerus kepercayaan pengguna dan mengurangi daya tarik platform itu sendiri.
Langkah Snapchat dan LinkedIn bisa menjadi preseden bagi platform media sosial lainnya untuk menerapkan kebijakan serupa. Seiring kemampuan AI generatif yang terus berkembang pesat, kebutuhan akan mekanisme kurasi dan penyaringan konten menjadi semakin mendesak agar ruang digital tetap relevan dan bermanfaat bagi penggunanya.
Tag: Snapchat, LinkedIn, konten AI, AI slop, media sosial