Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Sensor Cahaya Fleksibel Buatan Australia Bisa Pantau Sinyal Listrik Jantung dan Otak

2026-08-04 06:07 WIB · aindari · 👁 411 dibaca

Ilmuwan UNSW mengembangkan 'optrode' berukuran setengah lebar rambut manusia yang mengubah sinyal listrik tubuh menjadi cahaya tanpa merusak jaringan.

Sebuah terobosan di bidang bioelektronika datang dari Australia. Tim insinyur biomedis di Universitas New South Wales (UNSW) berhasil menciptakan sensor optik fleksibel yang mampu mendeteksi aktivitas listrik organ tubuh secara akurat — membuka kemungkinan baru untuk pemantauan jantung, otak, dan organ lain dari dalam tubuh.

Sensor ini bekerja dengan prinsip yang berbeda dari implan konvensional. Alih-alih mengandalkan elektroda logam, perangkat yang disebut 'optrode' ini mengonversi sinyal listrik tubuh langsung menjadi sinyal cahaya. Pendekatan optik ini menghindari kelemahan utama implan berbasis silikon dan logam, yang selama ini diketahui rentan terhadap gangguan listrik serta berisiko memicu kerusakan jaringan, pembentukan jaringan parut, dan penolakan oleh tubuh akibat desainnya yang kaku.

Reem Almasri, peneliti dari Fakultas Rekayasa Biomedis UNSW sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa implan bioelektronik dirancang untuk ditempatkan di dalam tubuh guna memantau sinyal listrik dari organ seperti jantung dan otak. Yang membedakan optrode dari generasi sebelumnya adalah kemampuannya meniru kelembutan jaringan biologis, sehingga lebih kompatibel dengan lingkungan di dalam tubuh.

Dalam pengujian laboratorium, sensor ini mencatat tingkat viabilitas sel sebesar 98,4 persen — angka yang menurut para peneliti menunjukkan potensi besar untuk digunakan sebagai teknologi pemantauan jangka panjang yang lebih aman dan minim invasif. Uji tersebut juga tidak menemukan tanda-tanda toksisitas maupun kontaminasi. Almasri menambahkan bahwa ukuran sensor dapat diperkecil hingga puluhan mikron, kira-kira setara dengan setengah lebar rambut manusia, tanpa mengorbankan kualitas sinyal.

Sejauh ini pengujian baru dilakukan pada hewan, sehingga perjalanan menuju penerapan klinis pada manusia masih memerlukan tahapan penelitian lebih lanjut. Meski demikian, tim UNSW menyebut pencapaian ini sebagai lompatan signifikan menuju generasi berikutnya dari bioelektronika implan.

Jangkauan teknologi ini tidak terbatas pada jantung dan otak. Para peneliti menyebutkan bahwa optrode berpotensi diadaptasi untuk memantau usus, otot, bahkan sel-sel individual — membuka cakrawala baru dalam pemetaan aktivitas listrik tubuh secara menyeluruh. Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah npj Flexible Electronics.

Tag: bioelektronika, sensor optik, UNSW, implan medis, neurosains