Puing Roket SpaceX Meluncur ke Bulan, NASA Siap Panen Data Ilmiah
2026-08-05 17:08 WIB · aindari · 👁 765 dibaca

Tahap atas roket Falcon 9 seberat 3.900 kilogram diperkirakan menghantam permukaan Bulan pada 5 Agustus, dan NASA memanfaatkan momen ini untuk memperdalam pemahaman geologi Bulan.
Sebuah bagian roket Falcon 9 milik SpaceX yang sudah tidak terpakai diprediksi akan menabrak permukaan Bulan pada Rabu, 5 Agustus. NASA memastikan peristiwa ini tidak menimbulkan ancaman apa pun bagi Bumi, dan justru menjadi kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk mengumpulkan data.
Bagian yang dimaksud adalah tahap atas roket — komponen dengan bobot sekitar 3.900 kilogram — yang diperkirakan akan menghantam kawasan di dekat kawah Einstein dan Bell di permukaan Bulan. Roket ini sebelumnya diluncurkan pada 15 Januari 2025 dalam misi pengiriman wahana pendarat Blue Ghost 1 milik Firefly Aerospace ke Bulan, yang merupakan bagian dari program Commercial Lunar Payload Services NASA. Setelah menyelesaikan tugasnya, tahap atas roket itu tidak langsung jatuh ke orbit yang aman, melainkan terseret kembali ke arah Bulan akibat kombinasi aktivitas matahari dan tarikan gravitasi.
NASA menyebut pihaknya telah memantau lintasan benda tersebut menggunakan teleskop berbasis darat maupun instrumen di luar angkasa, dan tetap menjalin komunikasi dengan SpaceX terkait pergerakan objek itu. Tumbukan tidak akan bisa disaksikan dengan mata telanjang dari Bumi, namun NASA berencana mengamatinya secara langsung melalui sejumlah aset.
Kantor Lingkungan Meteoroid di Pusat Penerbangan Antariksa Marshall, Huntsville, akan mengarahkan teleskop darat untuk mengabadikan momen benturan. Di sisi lain, Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA serta instrumen ShadowCam yang terpasang pada Korea Pathfinder Lunar Orbiter milik Korea Selatan akan berupaya memotret lokasi tumbukan sebelum dan sesudahnya untuk membandingkan perubahan yang terjadi.
Menurut perkiraan NASA, benturan itu akan membentuk kawah baru dengan lebar sekitar 18 meter dan kedalaman sekitar 3,6 meter, disertai lontaran debu dan batuan ke sekitarnya. Skala dampak ini sebenarnya bukan hal luar biasa bagi Bulan — benda langit tanpa atmosfer itu menerima hantaman meteoroid dengan energi setara setiap kira-kira enam hari sekali. Yang membedakan peristiwa ini adalah objeknya merupakan buatan manusia, sehingga waktu dan titik jatuhnya dapat diprediksi dengan lebih akurat.
Prediktabilitas inilah yang membuat tumbukan ini bernilai tinggi secara ilmiah. Data dari kepulan ejekta yang dihasilkan dapat membantu para peneliti memahami komposisi dan struktur geologi lapisan bawah permukaan Bulan, sekaligus menyempurnakan model yang akan digunakan sebagai acuan dalam perencanaan misi eksplorasi Bulan di masa mendatang.
Tag: SpaceX, Falcon 9, Bulan, NASA, eksplorasi luar angkasa