MRT Jakarta Jadikan Kawasan Stasiun Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kota
2026-08-06 06:05 WIB · aindari · 👁 343 dibaca

PT MRT Jakarta mengintegrasikan hunian, perkantoran, dan ruang komersial di sekitar stasiun sebagai strategi mendorong ekonomi perkotaan sekaligus menekan ketergantungan warga pada kendaraan pribadi.
PT MRT Jakarta memperluas perannya melampaui fungsi transportasi semata. Perusahaan kini aktif mengembangkan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang memadukan transportasi publik, hunian, perkantoran, dan aktivitas komersial dalam satu ekosistem terpadu di wilayah DKI Jakarta.
Program Management Office Division PT MRT, Agus Trihan, bersama TOD Planning Department Head Sagita Devi menyampaikan bahwa MRT dirancang sebagai penggerak mobilitas perkotaan yang sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, penyediaan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan tepat waktu menjadi fondasi utama agar warga Jakarta mau beralih ke angkutan umum.
Salah satu prioritas strategis pengembangan TOD adalah konektivitas pejalan kaki. MRT Jakarta berfokus pada integrasi antara stasiun dan bangunan sekitarnya secara mulus, sehingga warga dapat berpindah dari satu titik ke titik lain tanpa hambatan berarti. Pengembangan infrastruktur ramah pejalan kaki ini disebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemudahan akses ke transportasi publik.
Selain aspek mobilitas, perusahaan juga menggarap pengembangan sistem parkir lengkap dengan operasi dan pemeliharaannya, serta mendorong terbentuknya ruang ketiga berkualitas di sekitar stasiun. Ruang-ruang sosial ini diharapkan menjadi titik aktivitas warga yang menghidupkan nadi perkotaan, bukan sekadar area transit yang sepi di luar jam sibuk.
Dari sisi bisnis, PT MRT Jakarta menargetkan pemanfaatan optimal atas aset-aset yang berada di kawasan transit. Potensi komersial di area tersebut akan dimaksimalkan guna menciptakan infrastruktur yang mampu membiayai dirinya sendiri atau self sustained infrastructure — model yang memungkinkan pengembangan berlanjut tanpa sepenuhnya bergantung pada subsidi.
Pendekatan TOD ini sejalan dengan tren pembangunan kota berkelanjutan yang mengedepankan efisiensi ruang dan pengurangan emisi. Dengan mengonsentrasikan fungsi hunian, kerja, dan komersial di koridor transit, kepadatan aktivitas ekonomi diharapkan tumbuh di sekitar jalur MRT, sekaligus mendorong lebih banyak warga meninggalkan kendaraan pribadi.
Sebagai gambaran skala investasi, PT MRT Jakarta sebelumnya telah mengalokasikan dana sekitar Rp300 miliar untuk pembangunan pedestrian deck di kawasan Dukuh Atas — salah satu simpul TOD utama yang menghubungkan berbagai moda transportasi di Jakarta.
Tag: MRT Jakarta, TOD, transportasi publik, ekonomi perkotaan, pembangunan berkelanjutan