Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Politik

Waspadai Narasi Provokatif soal Demo di Medsos, IPR Sebut Ada Pola Sistematis

2026-08-06 06:11 WIB · aindari · 👁 630 dibaca

Direktur IPR menilai konten hoaks seputar demonstrasi yang beredar di media sosial bukan sekadar unggahan biasa, melainkan diduga bagian dari upaya membangun opini publik secara terorganisasi.

Gelombang konten hoaks bertema demonstrasi kembali ramai beredar di berbagai platform media sosial. Direktur Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tersulut oleh konten-konten semacam itu, dan menekankan pentingnya memeriksa sumber serta kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Konten yang beredar belakangan ini umumnya menampilkan video-video aksi demonstrasi lama yang disertai narasi provokatif. Sejumlah narasi yang muncul antara lain mempertanyakan ketiadaan liputan media atas aksi besar, atau mengklaim media lokal sengaja membungkam pemberitaan. Ada pula konten yang membangun ketakutan akan terjadinya kerusuhan besar pada bulan Agustus.

Menurut Iwan, fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai unggahan yang berdiri sendiri. Ia mencatat bahwa narasi dengan tema serupa muncul secara bersamaan di berbagai platform dengan sudut pandang yang hampir identik — sebuah pola yang menurutnya patut dicurigai sebagai upaya pembentukan opini publik secara sistematis. Tema yang diangkat pun cenderung seragam, yakni isu ketimpangan, kemiskinan, dan kesulitan ekonomi, namun dibingkai secara manipulatif dengan mencampurkan disinformasi dan informasi yang dipotong dari konteksnya.

Iwan menegaskan bahwa tujuan konten-konten tersebut bukan sekadar menyampaikan kritik. Ia menilai konten itu dirancang untuk memancing kemarahan publik, membangun frustrasi, dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta institusi negara. Bila informasi sengaja direkayasa untuk membentuk kebencian, kata Iwan, hal itu bukan lagi kontrol sosial melainkan operasi propaganda yang berpotensi mengganggu stabilitas.

Iwan juga melihat sejumlah kemiripan pola komunikasi dengan situasi menjelang kerusuhan Agustus 2025, seperti masifnya narasi emosional, penggunaan konten yang mudah viral, dan eksploitasi isu-isu yang menyentuh keresahan publik. Meski demikian, ia menekankan bahwa tanpa bukti kuat, tidak bisa disimpulkan bahwa kondisi saat ini pasti mengarah pada skenario yang sama.

Sebagai respons, Iwan mendorong pemerintah untuk bertindak cepat, transparan, dan berbasis data dalam meluruskan informasi yang menyesatkan. Penegakan hukum terhadap penyebar hoaks, fitnah, atau hasutan juga perlu dilakukan secara profesional dan adil. Di sisi lain, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mengonfirmasi bahwa Polri tengah mendalami video hoaks terkait aksi demonstrasi yang beredar, dan mengingatkan masyarakat agar hanya menyebarkan informasi yang sesuai fakta serta tidak melakukan tindakan yang melanggar undang-undang.

Tag: hoaks, demonstrasi, media sosial, literasi digital, stabilitas sosial