Luhut: Pengusaha Lokal Masih Jadi Penonton di Rumah Sendiri, Hilirisasi Belum Merata
2026-08-07 17:10 WIB · aindari · 👁 638 dibaca

Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan mengakui hilirisasi mineral sudah mencetak hasil nyata, namun distribusi manfaatnya bagi daerah penghasil dan pelaku usaha lokal dinilai masih timpang.
Kebijakan hilirisasi mineral yang selama ini dibanggakan pemerintah ternyata menyimpan sejumlah pekerjaan rumah yang belum tuntas. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa manfaat ekonomi dari kebijakan tersebut belum terdistribusi secara adil, terutama bagi daerah penghasil dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri.
Hal itu disampaikan Luhut dalam acara peluncuran buku '10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia' di Jakarta, Jumat. Menurutnya, ada tiga isu mendasar yang masih harus diselesaikan: pemerataan manfaat ekonomi ke daerah, peningkatan peran pengusaha nasional dan lokal dalam rantai nilai, serta pemenuhan standar lingkungan dan keselamatan kerja. Ia menyebut pengusaha lokal saat ini masih banyak yang sekadar menjadi penonton di daerahnya sendiri, sementara penguasaan teknologi oleh tenaga dalam negeri juga belum optimal.
Luhut juga menekankan bahwa tekanan dari pasar global kini semakin nyata. Rantai pasok yang bersih dan berkelanjutan bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan prasyarat agar produk Indonesia tetap kompetitif di pasar internasional. Dengan kata lain, mengabaikan standar lingkungan berarti menutup pintu akses ke pasar dunia.
Di sisi lain, Luhut mengingatkan perjalanan panjang dan berliku yang dilalui sebelum hilirisasi mencapai titik ini. Ketika pemerintah memberlakukan larangan ekspor bijih nikel, kebijakan itu menuai cibiran dan tekanan dari berbagai pihak, bahkan berujung pada gugatan Indonesia di forum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Banyak pihak meragukan kemampuan Indonesia untuk bertahan.
Namun hasilnya kini bisa diukur secara konkret. Ekspor produk nikel dan turunannya melonjak berlipat ganda. Dua kawasan industri yang sebelumnya nyaris tidak diperhitungkan dalam peta ekonomi nasional — Morowali dan Halmahera Tengah — kini mencatat pertumbuhan ekonomi dua digit dan telah masuk ke dalam rantai pasok industri global.
Dalam kesempatan yang sama, Luhut mengapresiasi 10 buku karya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Ia menilai buku-buku tersebut ditulis langsung oleh Bahlil dengan data yang kaya dan bersikap terbuka terhadap berbagai persoalan yang masih ada, mulai dari ketimpangan bagi daerah penghasil, minimnya peran pengusaha lokal, hingga isu lingkungan dan keterampilan pekerja.
Pernyataan Luhut ini menjadi sinyal bahwa agenda hilirisasi ke depan tidak cukup hanya diukur dari lonjakan nilai ekspor, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya benar-benar menyentuh daerah dan pelaku usaha lokal yang selama ini berada di garis pinggir.
Tag: hilirisasi, Luhut Binsar Pandjaitan, nikel, ekonomi daerah, DEN