Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

Lebih dari 43 Ribu Anak Putus Sekolah Kembali Belajar Lewat Sekolah Rakyat, Kualitas Diklaim Kompetitif

2026-08-09 06:04 WIB · aindari · 👁 612 dibaca

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan Sekolah Rakyat mampu bersaing dalam mutu pendidikan, dibuktikan oleh prestasi siswa di berbagai kompetisi nasional.

Sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga Agustus 2026, program Sekolah Rakyat telah menjangkau lebih dari 43 ribu anak yang sebelumnya tidak mengenyam pendidikan formal. Mereka berasal dari keluarga kurang mampu, termasuk anak-anak yang putus sekolah maupun yang sehari-hari hidup di jalanan. Angka tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui unggahan akun Instagram Sekretariat Kabinet pada Sabtu.

Teddy menekankan bahwa program ini bukan sekadar mengembalikan anak-anak ke ruang kelas. Sekolah Rakyat menyediakan paket layanan menyeluruh yang mencakup tempat tinggal, pemenuhan kebutuhan pangan, layanan kesehatan, serta fasilitas belajar yang memadai. Pendekatan ini dirancang agar siswa dapat fokus menempuh pendidikan tanpa terbebani persoalan kebutuhan dasar.

Soal kualitas, Teddy membantah anggapan bahwa Sekolah Rakyat tertinggal dibandingkan institusi pendidikan lain. Ia menunjuk prestasi konkret sebagai bukti. Tujuh siswa dari Sekolah Rakyat Menengah Atas 26 Makassar berhasil meraih juara di tiga ajang kompetisi sekaligus, yakni Olimpiade Nasional Indonesia, Kompetisi Sains Pelajar Dalton, dan Airlangga Competition. Kemenangan tersebut diraih di bidang Matematika, Biologi, Bahasa Indonesia, dan Sejarah.

Capaian itu menjadi indikator bahwa siswa Sekolah Rakyat — yang sebagian besar datang dari latar belakang sulit — mampu berkompetisi di level nasional. Teddy menyatakan anak-anak yang dulu hidup di jalanan kini memiliki ruang untuk bermimpi dan memasang cita-cita tinggi berkat kesempatan pendidikan yang mereka terima.

Selain mengejar keunggulan akademik, kurikulum Sekolah Rakyat juga menitikberatkan pembentukan karakter dan akhlak. Teddy menegaskan bahwa tujuan akhir program ini adalah melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki adab dan budi pekerti. Kombinasi antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembinaan moral menjadi fondasi utama yang membedakan pendekatan Sekolah Rakyat.

Dengan target 100 Sekolah Rakyat beroperasi di seluruh Indonesia pada akhir Agustus 2026, pemerintah tampak ingin memperluas jangkauan program ini secara signifikan. Keberhasilan siswa SRMA 26 Makassar di berbagai kompetisi menjadi modal argumentasi bahwa perluasan tersebut layak dilanjutkan, sekaligus menjawab keraguan publik terhadap standar mutu sekolah yang diperuntukkan bagi kelompok rentan.

Tag: Sekolah Rakyat, pendidikan inklusif, Teddy Indra Wijaya, anak putus sekolah, prestasi siswa