Ketimpangan Naik, Celios Dorong Pemerintah Giatkan Kembali Program Padat Karya di Pedesaan
2026-08-09 17:12 WIB · aindari · 👁 672 dibaca

Lembaga riset Celios menyoroti menyusutnya program padat karya sebagai salah satu faktor yang perlu diwaspadai di tengah kenaikan Gini Ratio pada Maret 2026.
Kenaikan tipis angka ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia pada awal 2026 memantik perhatian kalangan peneliti terhadap efektivitas program perlindungan sosial dan penciptaan lapangan kerja di tingkat desa. Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai bahwa skema padat karya tunai atau cash for work merupakan instrumen penting yang mampu menggerakkan roda ekonomi hingga ke wilayah pedesaan, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik dan Keadilan Fiskal Celios, mengungkapkan bahwa berbagai program padat karya yang sebelumnya menjadi penggerak ekonomi desa melalui penyerapan tenaga kerja harian justru mengalami penyusutan cukup tajam sepanjang tahun lalu. Padahal, skema serupa pernah dimasukkan ke dalam Paket Ekonomi 2025 sebagai salah satu strategi stimulus.
Media juga menyoroti stagnasi jumlah penerima bantuan sosial selama setahun terakhir. Menurut pengamatannya, program-program seperti Program Keluarga Harapan, Bantuan Pangan Non-Tunai, Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan, maupun beasiswa tidak menunjukkan pertambahan penerima yang berarti. Ia menambahkan bahwa perubahan desil penerima bansos — di mana sejumlah kelompok masyarakat kehilangan akses terhadap program tertentu — berpotensi memperburuk ketimpangan di pedesaan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Gini Ratio Indonesia pada Maret 2026 tercatat 0,368, meningkat 0,005 poin dibandingkan September 2025 yang berada di level 0,363. Kenaikan terjadi baik di perkotaan maupun pedesaan: Gini Ratio perkotaan mencapai 0,387, sedangkan pedesaan 0,296. Skala indeks ini bergerak dari 0 hingga 1, di mana angka yang lebih tinggi mencerminkan distribusi pengeluaran yang makin timpang.
Di sisi lain, terdapat kabar positif dari sisi kemiskinan absolut. BPS mencatat jumlah penduduk miskin turun sekitar 430 ribu jiwa menjadi 22,93 juta orang pada Maret 2026, dari sebelumnya 23,36 juta orang pada September 2025. Namun, garis kemiskinan nasional ikut bergeser naik 4,33 persen menjadi Rp669.235 per kapita per bulan, dibandingkan Rp641.443 pada periode sebelumnya, yang mengindikasikan kenaikan biaya hidup minimum.
Kondisi ini, menurut Celios, menegaskan urgensi bagi pemerintah untuk kembali mengoptimalkan program padat karya serta memperluas cakupan bantuan sosial. Tanpa intervensi yang memadai, penurunan angka kemiskinan bisa berjalan tidak seiring dengan perbaikan pemerataan, sehingga kesenjangan antara kelompok masyarakat justru melebar meski jumlah penduduk miskin secara statistik berkurang.
Tag: padat karya, ketimpangan, Gini Ratio, kemiskinan, Celios