Serangan DDoS di Indonesia Naik 62 Persen, Durasi Lebih Lama dari Rata-rata Global
2026-08-10 17:02 WIB · aindari · 👁 407 dibaca

Data StormWall menunjukkan lonjakan serangan siber jenis DDoS di Indonesia pada kuartal pertama 2026, dengan motif finansial mendominasi dan durasi serangan melampaui tren global.
Indonesia mencatat lonjakan signifikan serangan siber sepanjang kuartal pertama 2026. Perusahaan keamanan siber StormWall melaporkan jumlah serangan distributed denial of service (DDoS) yang menargetkan berbagai organisasi di Indonesia meningkat 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total serangan yang terjadi, sekitar 70 persen bermotif finansial. Yang lebih mengkhawatirkan, 41 persen di antaranya disertai tuntutan tebusan — angka yang jauh melampaui rata-rata global di kisaran 30 persen. Data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dirilis Mei lalu memperkuat gambaran ini: Indonesia menghadapi sekitar 5 miliar anomali lalu lintas data setiap tahun, atau setara dengan 170 serangan siber per detik, dengan sektor perbankan, layanan keuangan, dan kesehatan sebagai target utama.
Tidak hanya frekuensinya yang meningkat, durasi serangan di Indonesia juga tercatat lebih panjang dibanding tren global. StormWall mencatat hanya 62 persen serangan di Indonesia yang tuntas dalam waktu kurang dari lima menit, sementara secara global angka tersebut mencapai 78 persen. Artinya, serangan di Indonesia cenderung bertahan lebih lama dan berpotensi menimbulkan gangguan yang lebih besar.
Pengamat teknologi informasi Dicky Yuniarto menjelaskan bahwa serangan DDoS bekerja dengan cara membanjiri server target menggunakan lalu lintas data dalam skala masif melalui jaringan botnet — yang terdiri dari ribuan hingga jutaan perangkat seperti komputer, ponsel pintar, dan perangkat Internet of Things (IoT). Ia mengibaratkannya seperti jalan lengang yang tiba-tiba dipenuhi kendaraan hingga macet total, sehingga tidak ada lalu lintas lain yang bisa masuk. Dampak utamanya adalah gangguan layanan, bukan pencurian data secara langsung. Namun, peretas kerap menggunakan DDoS sebagai pengalih perhatian: saat tim keamanan sibuk menangani kelumpuhan server, penyusup memanfaatkan celah itu untuk mencuri basis data pengguna secara diam-diam.
Di luar ancaman DDoS terhadap organisasi, Dicky mengingatkan bahwa individu pun rentan terhadap kejahatan siber melalui kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele. Mengeklik tautan mencurigakan, memakai kata sandi lemah, atau berselancar di jaringan tidak aman adalah pintu masuk yang sering dimanfaatkan peretas. Ia juga menyoroti kebiasaan menekan tombol "Terima Semua" pada izin cookie tanpa membaca pengaturannya — data profil kebiasaan yang terkumpul dari cookie berpotensi disalahgunakan untuk melancarkan penipuan yang dirancang khusus sesuai rekam jejak aktivitas daring korban.
Untuk memperkecil risiko, Dicky merekomendasikan beberapa langkah praktis: tidak sembarangan mengeklik tautan yang muncul di layar perangkat, rutin memperbarui sistem operasi, aplikasi, dan perangkat lunak antivirus guna menutup celah keamanan, serta menggunakan kata sandi yang kuat dengan minimal 14 karakter yang mengombinasikan berbagai jenis karakter. Langkah-langkah sederhana ini, menurutnya, dapat menjadi lapisan pertahanan awal yang efektif di tengah meningkatnya ancaman siber.
Tag: keamanan siber, DDoS, StormWall, BSSN, kejahatan digital