Pemerintah Perpanjang Program Jagung Murah untuk Peternak Unggas, Bulog Diminta Tanpa Batas Waktu
2026-08-12 06:04 WIB · aindari · 👁 867 dibaca

Bapanas memperpanjang program SPHP jagung pakan demi menekan biaya produksi lebih dari 5.000 peternak unggas skala kecil dan menengah di 26 provinsi.
Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk jagung pakan ternak resmi diperpanjang tanpa batas waktu yang ditentukan. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman memerintahkan Perum Bulog selaku operator distribusi agar terus menyalurkan jagung bersubsidi kepada peternak selama kebutuhan masih ada. Kebijakan ini diumumkan dalam Rapat Koordinasi Perunggasan yang digelar di Surabaya, Jawa Timur.
Amran, yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, menegaskan bahwa jagung merupakan komponen utama pakan unggas sehingga kepastian pasokan dengan harga terjangkau menjadi kunci kelangsungan usaha peternakan. Ia menyatakan tidak ada ruang untuk tawar-menawar dalam hal ini — pakan tidak boleh naik harga, dan Bulog wajib memenuhi kebutuhan peternak tanpa pengecualian.
Sejak digulirkan pada Mei 2026, total alokasi SPHP jagung pakan ditetapkan sebesar 242 ribu ton, seluruhnya berasal dari hasil penyerapan panen jagung petani dalam negeri. Hingga saat ini, realisasi penyaluran telah mencapai sekitar 118 ribu ton atau 46,55 persen dari total alokasi. Program ini menjangkau lebih dari 5.000 peternak di 26 provinsi dengan populasi unggas mencapai 53 juta ekor, mayoritas berskala mikro, kecil, dan menengah.
Harga jagung yang ditetapkan Bapanas adalah Rp5.000 per kilogram untuk pengambilan langsung di gudang Bulog, dengan harga maksimal Rp5.500 per kilogram di tingkat peternak. Penetapan harga ini dimaksudkan agar biaya produksi tidak semakin membebani peternak, terutama di tengah kondisi harga telur yang belum memberikan margin memadai. Pemerintah juga telah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) telur ayam di tingkat peternak sebesar Rp26.500 per kilogram sebagai acuan.
Kondisi industri perunggasan saat ini memang tengah menghadapi tekanan ganda: harga pakan yang tinggi di satu sisi, dan kelebihan pasokan telur yang menekan harga jual di sisi lain. Pemerintah menyatakan tidak ingin peternak semakin terjepit ketika harga hasil produksi mereka belum sesuai harga acuan pembelian.
Kalangan peternak menyambut positif keputusan yang dihasilkan dari rapat koordinasi tersebut. Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS), Suwardi, menyatakan peternak merasa puas karena pemerintah dinilai benar-benar mendengar dan merespons persoalan nyata di lapangan. Ia berharap implementasi kebijakan ini berjalan sesuai komitmen yang telah disepakati, mengingat keberlangsungan program ini menyangkut kelangsungan hidup para peternak.
Tag: peternakan unggas, jagung pakan, SPHP, Bapanas, Bulog