Kematian Massal Pertama Akibat H5N1 Terkonfirmasi di Australia, 49 Burung Laut Mati di Lepas Pantai
2026-08-03 18:01 WIB · aindari · 👁 725 dibaca

Puluhan burung dara laut jambul ditemukan mati di sebuah pulau kecil dekat pantai tenggara Australia Selatan, menandai kematian massal pertama akibat flu burung H5N1 di negara itu.
Australia mengonfirmasi kematian massal pertama yang disebabkan virus flu burung H5N1 di wilayahnya. Korban adalah sekawanan burung dara laut jambul yang ditemukan di sebuah pulau kecil sekitar 5 kilometer dari pesisir tenggara Negara Bagian Australia Selatan. Penemuan itu dilakukan melalui pemantauan udara pada Jumat, 31 Juli, dan hasilnya dikonfirmasi secara resmi pada Senin, 3 Agustus.
Dari kawanan tersebut, 49 ekor ditemukan sudah mati dan 35 ekor lainnya dalam kondisi sakit. Menteri Pertanian Julie Collins dan Menteri Lingkungan Hidup Murray Watt menyatakan kepada media bahwa burung-burung itu positif terinfeksi galur H5N1 yang sangat patogenik — jenis yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi pada unggas dan satwa liar.
Kejadian ini terjadi di tengah lonjakan kasus H5N1 di Australia Selatan. Galur tersebut pertama kali terdeteksi di daratan utama Australia pada pertengahan Juni, dan kematian massal ini dipandang sebagai dampak lanjutan dari penyebarannya ke ekosistem liar. Collins menegaskan bahwa begitu virus H5 menyebar di alam liar, kematian satwa dalam jumlah besar menjadi hampir tak terhindarkan. Ia meminta masyarakat Australia bersiap menghadapi peningkatan penyebaran serta bertambahnya jumlah satwa liar yang terdampak.
Pemerintah federal sebenarnya telah mengantisipasi ancaman ini sejak sebelum virus tiba di daratan utama. Dana sebesar 113 juta dolar Australia — setara sekitar 79,5 juta dolar AS — telah dialokasikan lebih awal untuk kegiatan pengawasan, respons lapangan, dan kesiapsiagaan menghadapi wabah H5N1.
Menyusul konfirmasi kematian massal ini, Menteri Watt mengumumkan bahwa rencana penanganan nasional untuk H5N1 resmi diaktifkan, disertai tambahan anggaran sebesar 24 juta dolar Australia. Langkah ini menandai eskalasi respons pemerintah dari fase kesiapsiagaan ke penanganan aktif di lapangan.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena Australia selama ini dikenal relatif terlindungi dari wabah flu burung skala besar. Penyebaran H5N1 ke populasi satwa liar — khususnya burung laut yang bermigrasi — membuka risiko penularan yang lebih luas dan sulit dikendalikan dibandingkan wabah di lingkungan peternakan tertutup.
Tag: flu burung, H5N1, Australia, satwa liar, wabah unggas