WHO: Wabah Ebola di Kongo Lampaui Rekor, Kematian Tembus 2.061 Jiwa
2026-08-13 15:01 WIB · aindari · 👁 646 dibaca

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo kini menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah dengan lebih dari 4.400 kasus terkonfirmasi dan tingkat kematian hampir separuh pasien.
Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik (RD) Kongo telah mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pada Rabu (12/8) bahwa wabah ini kini menjadi yang terbesar kedua sepanjang sejarah pencatatan penyakit tersebut, dengan total 4.449 kasus terkonfirmasi dan 2.061 kematian.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan kekhawatiran serius dalam konferensi pers di Jenewa. Ia menegaskan bahwa laju penyebaran wabah ini melampaui semua wabah Ebola sebelumnya, dan jika tren ini berlanjut, wabah di Kongo berpotensi melampaui tragedi Ebola di Afrika Barat pada 2014–2016 yang selama ini menjadi yang terparah dalam sejarah.
Data resmi dari otoritas kesehatan RD Kongo menunjukkan tingkat kematian kasus secara keseluruhan mencapai 46,3 persen. Dari seluruh pasien, 716 orang masih menjalani isolasi atau perawatan, sementara 886 orang berhasil pulih. Provinsi Ituri menjadi episentrum utama wabah ini, menyumbang sekitar 90 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi dan 80 persen dari total kematian yang tercatat.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan wabah ini adalah banyaknya kematian yang terjadi di luar fasilitas kesehatan, yakni di tengah masyarakat umum. Selain itu, sejumlah kasus baru terdeteksi di luar daftar kontak yang sudah dipantau, yang mengindikasikan masih adanya rantai penularan yang belum berhasil diidentifikasi. Tedros menegaskan bahwa selama rantai penularan itu belum sepenuhnya dipetakan dan diputus, wabah tidak akan bisa dikendalikan.
Wabah yang disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo ini secara resmi diumumkan pemerintah RD Kongo pada 15 Mei. Namun, penyelidikan WHO mengungkap bahwa virus kemungkinan sudah beredar dua hingga tiga bulan sebelum pengumuman resmi tersebut, meski waktu pasti awal mula penularan masih terus diselidiki. Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO Chikwe Ihekweazu menyebut temuan ini sebagai indikasi bahwa wabah telah jauh berkembang sebelum respons resmi dimulai.
Tedros menggambarkan situasi saat ini dengan menyatakan bahwa wabah masih berada jauh di depan kemampuan respons yang ada, dan tim WHO tengah berupaya keras untuk mengejarnya. Pernyataan ini mencerminkan betapa kompleks dan dinamisnya kondisi di lapangan, terutama di wilayah-wilayah yang penularannya masih terus berlangsung tanpa henti.
Tag: Ebola, WHO, Republik Demokratik Kongo, wabah penyakit, kesehatan global