Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Dokter Paru Peringatkan Bahaya Jangka Panjang Kabut Asap Karhutla bagi Kesehatan Pernapasan

2026-09-18 17:13 WIB · aindari · 👁 785 dibaca

Paparan kabut asap karhutla secara terus-menerus dapat menurunkan fungsi paru dan meningkatkan risiko kanker akibat kandungan zat karsinogenik di dalamnya.

Bencana kabut asap yang melanda Kalimantan dan Sumatera selama tiga bulan terakhir bukan sekadar gangguan jarak pandang — dampaknya terhadap kesehatan jauh lebih serius dari yang banyak disadari masyarakat. Dokter spesialis paru RSUD Sultan Syarif Mohammad Al-Qadri Pontianak, Nur Anissa, mengingatkan bahwa paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam jangka panjang berpotensi menurunkan fungsi paru sekaligus meningkatkan reaktivitas saluran napas.

Kabut asap karhutla mengandung campuran polutan berbahaya, mulai dari karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida, ozon, hingga sulfur dioksida. Selain gas-gas tersebut, terdapat pula zat toksik seperti aldehida, benzena, toluena, logam berat, dioksin, dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Di antara semua polutan itu, partikulat disebut sebagai ancaman utama — terutama partikel berukuran 2,5 mikrometer ke bawah yang mampu menembus jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan serta stres oksidatif.

Tingkat risiko kesehatan seseorang tidak seragam. Nur menjelaskan bahwa faktor penentu meliputi konsentrasi polutan di udara, durasi paparan, ukuran partikel yang terhirup, intensitas aktivitas fisik yang dilakukan, serta kerentanan individu masing-masing. Partikulat sendiri terbagi dalam tiga kategori ukuran: partikel kasar (10 mikrometer ke atas), partikel halus (sekitar 2,5 mikrometer), dan partikel ultrahalus (di bawah 0,1 mikrometer).

Dalam jangka pendek, paparan asap dapat menimbulkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, disertai batuk, bersin, peningkatan produksi dahak, sesak napas, hingga mengi. Kondisi ini juga meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infeksi, sehingga risiko terkena ISPA dan pneumonia menjadi lebih tinggi. Bagi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), paparan asap dapat memicu eksaserbasi atau perburukan kondisi. Pada paparan berat, terutama bagi petugas pemadam kebakaran dan orang dengan penyakit penyerta, risiko hipoksemia dan cedera inhalasi turut mengintai. Paparan CO secara khusus juga dapat menyebabkan sakit kepala, mual, gangguan neurologis, serta memperburuk kondisi penderita penyakit jantung koroner.

Dalam jangka panjang, ancaman semakin berat. Selain penurunan fungsi paru, berbagai zat karsinogenik dalam kabut asap berpotensi meningkatkan risiko kanker. Nur mengimbau warga Pontianak dan Kalimantan Barat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Apabila terpaksa beraktivitas di luar, penggunaan masker yang tepat menjadi kunci perlindungan.

Masker yang direkomendasikan adalah jenis respirator seperti N95, KN95, dan FFP2, yang mampu menyaring partikulat berukuran 2,5 mikrometer hingga 95 persen. Masker bedah hanya memberikan perlindungan terbatas karena rentan celah kebocoran, sementara masker kain dan buff dinilai tidak memadai untuk menangkal partikulat maupun gas beracun dalam kabut asap.

Tag: karhutla, kesehatan paru, kabut asap, polusi udara, Kalimantan Barat