Dokter RSUI Jelaskan Perbedaan Heat Exhaustion dan Heat Stroke, Ini Gejalanya
2026-08-13 17:13 WIB · aindari

Heat stroke merupakan kondisi darurat medis yang lebih berbahaya dari kelelahan akibat panas dan dapat memicu kerusakan organ jika tidak segera ditangani.
Dua gangguan kesehatan akibat paparan panas — heat exhaustion dan heat stroke — perlu dipahami masyarakat, terutama mereka yang sering beraktivitas di luar ruangan saat cuaca panas. Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Faisal Parlindungan, menjelaskan perbedaan keduanya beserta tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
Heat exhaustion atau kelelahan akibat panas terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan garam dalam jumlah besar karena kombinasi paparan panas dan aktivitas fisik. Gejalanya mencakup keringat berlebih, rasa haus, lemas, pusing, sakit kepala, mual atau muntah, serta kram otot. Kondisi ini sudah cukup mengganggu, namun masih berada di bawah tingkat keparahan heat stroke.
Heat stroke merupakan kondisi yang jauh lebih serius. Menurut dr. Faisal, serangan panas terjadi ketika tubuh gagal mengatur suhunya sendiri, sehingga suhu tubuh melonjak sangat tinggi dan berpotensi mengganggu fungsi organ. Berdasarkan informasi dari laman resmi Kementerian Kesehatan, suhu tubuh penderita heat stroke dapat melampaui 40 derajat Celsius.
Pada tahap ini, gangguan fungsi otak mulai muncul. Penderita bisa mengalami kebingungan, kesulitan berkomunikasi, perilaku tidak wajar, bicara tidak jelas, kejang, hingga penurunan kesadaran. Dr. Faisal menegaskan bahwa penurunan kesadaran inilah gejala utama yang membedakan heat stroke dari heat exhaustion. Jika tidak segera ditangani, serangan panas dapat merusak organ-organ vital seperti otak, ginjal, hati, dan otot, serta memicu masalah pembekuan darah.
Menghadapi gejala awal seperti pusing, lemas, mual, sakit kepala, atau kram otot, dr. Faisal menekankan pentingnya segera menghentikan aktivitas dan berpindah ke tempat yang lebih sejuk. Penanganan awal juga bisa dilakukan dengan mengompres area leher, ketiak, dan selangkangan menggunakan kompres dingin untuk membantu menurunkan suhu tubuh, serta memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat — khususnya yang harus beraktivitas lama di luar ruangan — mewaspadai risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas selama musim kemarau. Heat stroke sendiri dikategorikan sebagai kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa.
Tag: heat stroke, heat exhaustion, cuaca panas, kesehatan, RSUI