Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Gangguan Pernapasan, Pakar UI Bagikan Cara Melindungi Diri

2026-08-14 06:10 WIB · aindari · 👁 869 dibaca

Polusi udara yang cenderung memburuk saat kemarau membuka peluang lebih besar bagi debu, virus, dan bakteri untuk menyerang saluran pernapasan.

Musim kemarau bukan hanya soal terik dan kekeringan. Bagi kesehatan pernapasan, periode ini menyimpan risiko tersendiri. Guru besar Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. R. Budi Haryanto, mengingatkan bahwa polusi udara cenderung meningkat selama kemarau, dan kondisi itu secara langsung memperburuk kualitas udara yang dihirup setiap hari.

Menurut Prof. Budi, debu dan berbagai polutan yang melayang di udara dapat mengiritasi saluran pernapasan begitu terhirup. Lebih dari sekadar iritasi, paparan polutan juga membuka celah bagi virus dan bakteri untuk masuk dan memicu infeksi. Gangguan yang ditimbulkan pun tidak terbatas pada infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, melainkan mencakup beragam reaksi yang bisa muncul dalam waktu singkat setelah terpapar.

Gejala ringan yang perlu diwaspadai antara lain batuk, pilek, tenggorokan terasa perih, dan hidung tersumbat. Namun Prof. Budi menegaskan ada kondisi yang jauh lebih serius: sesak napas, napas terasa berat, nyeri dada, jantung berdebar, hingga kepala mudah pusing. Bila gejala-gejala berat itu muncul, ia menyarankan agar penderita segera mendapat penanganan medis tanpa menunda.

Dalam hal pencegahan, Prof. Budi membagi langkah perlindungan ke dalam dua sisi: individu dan lingkungan. Dari sisi individu, penggunaan masker dan pemantauan indeks kualitas udara secara rutin menjadi langkah awal yang penting. Di dalam rumah maupun kantor, upaya meminimalkan masuknya polutan bisa dilakukan dengan memanfaatkan pendingin udara atau alat pembersih udara. Asupan makanan bergizi tinggi vitamin dan serat juga disebut sebagai bagian dari strategi menjaga daya tahan tubuh agar tetap optimal.

Dari sisi lingkungan, Prof. Budi mendorong pengendalian sumber-sumber pencemar secara lebih serius. Pembakaran sampah sembarangan harus dilarang, sementara potensi kebakaran hutan dan lahan perlu dicegah dengan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran. Di kawasan perkotaan, kendaraan berbahan bakar fosil menjadi penyumbang lebih dari separuh polusi udara, sehingga perluasan transportasi umum dan dorongan beralih ke kendaraan ramah lingkungan dinilai mendesak. Sektor industri pun didorong untuk mengadopsi proses produksi yang lebih rendah emisi demi menekan pencemaran dari sumbernya.

Tag: kesehatan pernapasan, polusi udara, musim kemarau, ISPA, kualitas udara